Seni dan Nilai Karya

15 08 2007

Setiap karya seni yang baik seharusnya mendukung dua asas atau nilai utama dalam kekaryaan yaitu nilai intrinsik dan ekstrinsik. Apabila berbicara seni, pokok utama pembicaraan yang membedakan karya seni dengan bidang-bidang lain seperti filsafat, ilmu pengetahuan (terkandung di dalamnya bidang sains, teknologi, ekonomi, komunikasi, kedokteran dan lain-lain) dan agama adalah dengan melihat nilai yang terkandung di dalamnya.

Persoalan nilai akan membedakan seni dengan filsafat juga ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan seperti bidang sains dan teknologi misalnya tidak berbicara tentang nilai. Bidang ini berbicara tentang praktika dari suatu konsep dan aplikasinya, berbicara tentang aspek kegunaan dan fisikal. Filsafat juga tidak dapat berbicara tentang nilai karena filsafat adalah upaya manusia untuk mengenal sesuatu. Filsafat hanya berupaya mengenal nilai tetapi tidak membuat pilihan.

Nilai intrinsik adalah nilai yang menyangkut aspek-aspek formalistik, ikonografi dan fisikal. Mengapakah seni enak di pandang mata, mengapakah musik itu sedap didengar telinga, mengapakah drama itu membuat menetes airmata, mengapakah gerakan di dalam suatu seni tari menggugah perasaan; pendeknya nilai yang terkandung dalam aspek-aspek fisikal yang terlihat, dapat didengar, dapat ditonton oleh indera fisikal adalah nilai-nilai intrinsik.

Nilai-nilai ekstrinsik berkenaan aspek kejiwaan, filsafat atau psikologi, yaitu nilai-nilai yang tidak dapat dinilai oleh panca indera, serba noumena, transendental. Nilai ekstrinsik hanya bisa dirasai oleh jiwa, intuisi dan naluri dengan pendekatan ilmu, filsafat, kebudayaan dan sisi pribadi individu. Maka dapat dikatakan, jika dua nilai ini bergabung dapat membuahkan hasil yang baik dalam sebuah karya seni.

Namun terkadang dalam sebuah karya seni, dua nilai ini tidak sekaligus ada didalamnya. Sering terjadi nilai entrinsik dikesampingkan dan tidak jarang pula nilai intrinsik dihilangkan. Itulah sebabnya, terkadang sebuah karya seni tidak dapat bertahan lama. Contohnya adalah kartun atau komik yang mempunyai nilai-nilai intrinsik namun tidak punya atau kurang memiliki nilai ekstrinsik (perlu difahami kebanyakan kartun dan komik adalah yang berbentuk popular). Maka seni ini akan mati dan tidak akan dibicarakan lagi oleh masyarakat jika telah lewat dari jamannya. Namun ada beberapa karya-karya kartun Drs. Suyadi alias Pak Raden misalnya, tetap hidup dan diberi perhatian istimewa karena kekayaan nilai-nilai ekstrinsik didalamnya.

Si Unyil 1 Si Unyil 2 Si Unyil 3

Kartun Si Unyil

Karya-karya seni, baik yang adiluhung ataupun kontemporer pun bisa mati jika masyarakat teramat lemah pengetahuan dalam kesenian. Karya seni yang baik seperti seni rupa, sastera, pertunjukan dan sebagainya yang kaya dengan nilai-nilai intrinsik dan ekstrinsik dapat hilang disebabkan masyarakat tidak berupaya menyelami aspek-aspek kejiwaan, filsafat, moral dan budaya yang terkandung di dalam karya seni tersebut. Bermacam sebab mengapa hal ini terjadi, diantaranya adalah kurangnya kajian kritik dan apresiasi seni di media-media massa, pendidikan yang kurang menekankan seni sebagai aspek keilmuan, kurangnya penelitian dan buku-buku tentang seni, penonjolan besar-besaran terhadap seni hiburan yang memaparkan ‘artis-artis’ yang sebenarnya bukan seniman sehingga menimbulkan kekeliruan dalam masyarakat dalam memandang seni itu sendiri.

Pendeknya seniman yang layak dipanggil ‘seniman’ (tidak hanya perupa, desainer, penulis, arsitek, sastrawan, penyair, atau sutradara saja) adalah orang yang berupaya memahami permasalahan masyarakatnya dan harus senantiasa memperbaharui keilmuannya. Sehingga dapat dibedakan mana ‘seniman’ dan bukan dan juga seharusnya seniman menjadi contoh masyarakat dan pemikir yang berkarya bukan sekadar melukiskan keindahan dan berujung pada uang! Seniman tulen adalah mereka yang berupaya menafsir dan mengurai bukan sekadar menterjemah.


AddThis Social Bookmark Button


Actions

Information

5 responses

11 02 2008
Iman Mukhlis

Saya sangat tertarik dengan artikel bapak tentang seni ini. Menurut saya, seni tidak hanya sekedar media untuk mengekspresikan diri, tetapi seni adalah suatu hal yang bersifat lebih kompleks. Dalam seni terdapat berbagai standar baku yang menentukan nilai dari suatu karya seni. Secara keilmuan, seni memiliki batasan-batasan, yang tidak tebatas itu adalah imajinasi manusia. Meskipun seseorang memiliki imajinasi yang bernilai tinggi, belum tentu orang lain berpendapat sama, malah mungkin terjadi kontra atau penolakan.

Pada hakekatnya, semua benda segala sesuatu ada di bumi untuk kebaikan manusia, termasuk seni. Namun tidak semua manusia mengerti akan hal itu. Beberapa orang menggunakannya untuk menghacurkan, entah apa alasannya. Mungkin ini karena emosi jiwa yang tidak terkendali. Begitu juga dalam seni. Seni seharusnya digunakan untuk kebaikan manusia (banyak umat), namun ada juga yang mengunakannya untuk kepentingan pribadi. Semua itu kembali kepada emosi jiwa (niat) sang seniman itu.

Untuk menjadikan seni lebih bermanfaat untuk orang banyak, saya rasa harus dimulai dari diri kita sendiri. Kita tidak bisa melarang orang lain berekspresi. Kalaupun kita bisa mengkritiknya, itu belum tentu didengar. Lebih baik kita lakukan apa yang kita bisa, yaitu mencoba menjadikan seni lebih bermanfaat, sekecil apapun itu.

28 02 2008
Aminudin TH Siregar

Halo Ages…

ATHS

1 04 2008
agesvisual

Dear Aminudin TH Siregar…

Halo Ucok…makasih udah mampir. Sering-sering kesini. Thanks ya…

26 05 2008
Odoygiant

Setuju Ges…

29 05 2008
agesvisual

Setuju sajalah nya Doy?..:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: