Cover Buku, Galeri Para Perupa

11 09 2007

Ketika awal dimulainya era penjilidan kitab suci, fungsi sampul buku tidak lebih untuk melindungi isi naskah yang telah disatukan. Kini, ketika buku telah menjadi salah satu komoditas, cara menyajikan pelindung isi naskah pun telah berubah. Goresan kuas para pelukis banyak menghias sampul buku. Sampul buku tidak lagi sekadar pelindung, tetapi telah menjadi galeri bagi karya para pelukis ataupun perupa.

Buku berjudul Di Bawah Langit Tak Berbintang karya Utuy Tatang Sontani yang terbit di bawah bendera Pustaka Jaya dapat dijadikan contoh. Buku terbitan tahun 2001 ini dibungkus dengan sampul karya perupa yang aktif dalam kegiatan Jaringan Kerja Budaya (JKB), Alit Ambara. Bahkan, dipakainya karya-karya para seniman untuk sampul buku ini sudah dimulai oleh penerbit Pustaka Jaya sejak tahun 1971. Karya-karya pelukis seperti Nashar, Wakidjan, IP Ma’aruf, Nana Banna, atau Popo Iskandar turut menghias buku-buku sastra keluaran penerbit yang dikomandani Ayip Rosidi itu.

Alit Ambara

 Alit Ambara

Kini Pustaka Jaya tidak sendirian. Jejak penerbit itu diikuti oleh penerbit Bentang Budaya yang juga pada beberapa buku keluaran penerbit Yogyakarta ini memanfaatkan karya-karya pelukis dan perupa seperti Joko Pekik, Dadang Kristanto, Agung Kurniawan, dan Jumaldi Alfi. Kerja sama penerbit dengan para perupa atau pelukis ini menjadikan buku tidak hanya sebagai sebuah karya intelektual, tetapi sekaligus juga karya seni.

Agung Leak

Agung Kurniawan-Leak

Kecenderungan memanfaatkan karya perupa atau pelukis untuk dijadikan sampul sebuah buku, di satu sisi merupakan sebuah kolaborasi kerja antara penerbit dan seniman dan menjadikan buku tersebut sebuah karya seni. Di sisi lain, para perupa atau pelukis mendapatkan medium untuk menggelar karya-karya mereka. Penciptaan medium baru ini memungkinkan para perupa tetap bebas berkreasi seperti halnya ketika menuangkan kreativitas melalui medium lukisan.

Ada dua proses yang biasanya berlangsung di dalam kolaborasi ini. Pertama, perupa sudah membuat lukisan sebelum para penerbit mengetahuinya. Ketika para penerbit mempunyai naskah yang isinya dianggap cocok untuk dicitrakan dengan karya si perupa, terjadilah kolaborasi itu. Seperti yang terjadi pada karya Alfi. Ia membuat sebuah lukisan yang menurut Buldan, dari penerbit Bentang, sangat liris dan naratif. Karya ini, menurut dia, sangat pas untuk dijadikan kover bagi buku karya Leo Tolstoy yang berjudul Kalender Kearifan, Pikiran Bijak Hari ke Hari.

“Ketika memilih dan membaca naskah Leo Tolstoy itu, saya langsung ingat karya Alfi ini. Saya merasa lukisan itu sangat tepat untuk dijadikan sampul buku ini. Lukisan itu saya potret, lalu di-scan, di-cropping sana-sini, sesuai kebutuhan desain,” papar Buldan.

Begitu pula ketika Bentang hendak menerbitkan buku Emha Ainun Nadjib berjudul Gerakan Punokawan. Sebelum naskah buku ini akan diterbitkan, Buldan sudah mempunyai koleksi lukisan Joko Pekik tentang punokawan. “Menurut saya, sampai saat ini belum ada pelukis yang mampu menggambarkan punokawan atau petani dengan begitu hidup seperti yang dilakukan Joko Pekik. Artinya, petani maupun punokawan dilukiskan tidak sekadar sebagai obyek eksotisme, tetapi mengekspresikan sesuatu,” jelas Buldan yang lulusan jurusan Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia (ISI).

Proses kedua, penerbit mempunyai naskah dan meminta perupa untuk membuatkan lukisan sesuai isi naskah. Dalam proses ini, perupa akan membaca naskah dan menginterpretasikan isi naskah. Berdasarkan interpretasi inilah ia menentukan gagasan utama yang hendak disampaikan naskah yang dituangkan lewat goresan kuasnya. Seperti yang dilakukan Alit Ambara ketika membuat lukisan untuk buku Di Bawah Langit Tak Berbintang.

“Saya membaca naskah, dan dari situ saya menangkap gagasan tentang penderitaan yang dialami para eksil, orang Indonesia yang dianggap kiri oleh rezim Orde Baru yang sedang berada di luar negeri pada saat peristiwa tahun 1965 terjadi, dan karena itu tidak dapat kembali ke Tanah Air. Karena konteks cerita itu adalah negeri Cina masa kekuasaan Mao Zedong, maka saya membuat lukisan siluet Mao dan orang- orang eksil yang dalam keadaan menderita,” tutur Alit Ambara, lulusan jurusan Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Pada proses kedua terjadi diskusi antara penerbit dan perupa meskipun perupa tetap bebas menentukan citra yang akan dilukisnya. “Prinsipnya, hasil diskusi itu bukan mutlak harus diikuti oleh perupa seperti halnya seorang ilustrator yang mengikuti apa yang diperintahkan. Ia hanya menjadi pedoman perupa atau pelukis untuk membuat citra lukisannya,” jelas Buldan.

Paparan ini disetujui pula oleh Alfi yang sudah menghasilkan sekitar 40-an karya lukis untuk sampul buku. “Lukisan yang saya hasilkan semuanya berkaitan dengan proses pencarian pribadi. Kuncinya adalah karya yang mau dihasilkan itu ada kedekatan tidak dengan apa yang sedang saya pikirkan. Seandainya ada, berarti saya dengan mudah mengerjakannya. Tetapi, kalau tidak ada kedekatan dan saya paksakan untuk berkarya, hasilnya hanya berupa goresan tanpa jiwa. Kalau terjadi demikian, terpaksa saya katakan kepada penerbit bahwa saya tidak bisa meneruskan membuat lukisan untuk sampul buku tersebut,” tutur Alfi.

Saat ini juga terdapat kecenderungan bahwa jenis buku yang memanfaatkan karya para perupa atau pelukis untuk sampulnya adalah buku-buku sastra, seni, dan filsafat. Hampir tak ada buku-buku jenis How To, seperti buku-buku psikologi, manajemen, ataupun komputer, yang memajang karya para perupa. Hal ini diakui pula oleh penerbit Bentang. “Ada jenis-jenis buku yang mungkin justru menjadi tidak bagus kalau diberikan ilustrasi para perupa. Buku manajemen atau komputer, misalnya, cukup ditutupi oleh karya seorang desainer dengan penguasaan aspek-aspek visual tertentu,” jelas Buldan.

Jumaldi Alfi

Jumaldi Alfi 

Kecenderungan ini, menurut Sumbo Tinarbuko-seorang pengamat desain dan pengajar di jurusan Desain Komunikasi Visual ISI-berkaitan dengan upaya mendongkrak oplah jenis-jenis buku yang terbilang nonpraktis. “Pembaca buku- buku sastra, filsafat, sosial politik, kan, terbatas jumlahnya. Ini sangat berbeda dengan buku-buku seperti marketing atau komputer yang biasanya cukup laris. Oleh karena itu, buku-buku jenis sastra tadi perlu dibantu dengan sampul yang menarik,” tutur Tinarbuko.

Fenomena sampul buku memakai karya perupa ini, menurut Sumbo Tinarbuko, merupakan pengemasan cara saji buku ataupun ekspresi seni yang bervariasi. “Analoginya adalah ada mi yang disajikan dengan cara dibungkus dan ada yang dimakan di tempat dengan piring atau mangkok,” paparnya.

Variasi tersebut tak bisa dimungkiri, menurut Sumbo, karena itu adalah hasil kedekatan dan kreativitas para penerbit yang secara jeli mampu menangkap media ekspresi seni rupa alternatif selain yang selama ini sudah dikenal. Hal ini juga bisa kita lihat kecenderungan cerpen-cerpen di surat kabar yang mulai menggunakan ilustrasi dari karya para pelukis atau perupa.

“Meskipun ini adalah hasil rekayasa kawan-kawan pers, hal itu jelas memperkaya dunia seni rupa kita dan memberi tantangan baru bagi para desainer komunikasi visual untuk terbuka terhadap berbagai macam material,” tandas pengajar yang juga menjadi konsultan desain komunikasi visual itu.

Yang Mendobrak Selera Pasar

Pembaca kini dapat menikmati seni rupa dalam sampul buku dengan berbagai gaya lukisan dan desain warna yang sangat memikat. Gambar demikian menarik lantaran merupakan gabungan dari dua disiplin ilmu yang sebenarnya terpisah, yaitu seni rupa dan desain grafis. Desain sampul yang demikian seakan sudah menjadi genre baru dalam dunia sampul buku negeri ini. Kreasi demikian tidak lepas dari sosok Harry Wahyu, atau lebih dikenal dengan si “Ong”. Pria kelahiran Madiun, 22 Desember 1958, ini sempat mengenyam pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta, jurusan Grafic Art, dan mempelajari seni murni tahun 1980.

Bersama rekan-rekannya dari jurusan Arsitektur UGM, Yogyakarta, Ong mendirikan kelompok Salahuddin Press tahun 1983 yang salah satu kegiatannya siap sedia menerima permintaan penerbit untuk membuat ilustrasi sampul buku. Semula usahanya itu dilakukan guna mencari tambahan biaya. Namun, ternyata profesinya ini menjadi mata pencaharian.

Ketertarikannya pada sampul buku lahir setelah dia mengamati sampul kaset kelompok musik Yes asal Inggris yang tidak menampilkan personel group bandnya, tetapi ilustrasi. Sangat berbeda dengan desain sampul kaset Indonesia yang selalu didominasi oleh sosok sang artis. Ternyata, bahasa visual dapat memberi inspirasi dan menciptakan kesan dari yang melihatnya. “Sang tokoh tidak perlu ada, tetapi justru menampilkan kesan yang lebih hebat bagi penggemarnya,” lanjut Ong.

Melihat persoalan baginya tidak harus selalu mengikuti mainstream yang berlaku. Inilah yang dilakukan Ong dalam setiap pengamatannya sekaligus dalam berkarya. Ketika dia diminta membuat ilustrasi sampul buku, misalnya, Ong tidak peduli dengan kaidah-kaidah yang sudah mapan saat itu. Namun, dia berkarya untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik dengan menggunakan segala pengetahuan yang dimilikinya. “Saya enggak mau ngikutin pasar, biar pasar yang ikut kita aja. Kalo kita selalu ngikutin selera pasar, kan, enggak akan berkembang, enggak pinter-pinter nanti pasarnya,” ungkapnya.

Prinsip ini dibuktikan ketika dia membuat ilustrasi sampul buku yang berkaitan dengan agama Islam. Ong tidak membuat ilustrasi dengan mengambil nuansa Timur Tengah, tetapi gambar orang bersepeda yang berhenti di bawah pohon kelapa untuk melaksanakan shalat. Mendesain sampul buku baginya merupakan sesuatu pekerjaan yang sangat menyenangkan dan berlaku sangat universal. Hingga kini lebih kurang sudah 500 desain sampul buku yang dibuatnya.

Cover-Cover

Cover Karya Alit Ambara dan Rully Susanto 

Jika Ong lebih banyak berkiprah di Yogyakarta, di Jakarta nama Rully Susanto cukup dikenal sebagai pendesain sampul buku yang berkarakter. Rully bergabung di Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Ia mengaku secara tidak sengaja berkecimpung dalam dunia perbukuan. Menurut dia, sebagian besar lulusan sekolah desain sebenarnya lebih banyak memilih bekerja di bidang advertising yang dianggap memiliki gengsi tinggi. Setelah bidang advertising, lulusan sekolah desain lebih suka memilih sebagai tenaga desain grafis yang khusus memproduksi logo, profil perusahaan, dan sejenisnya. “Jadi, posisi desain grafis di penerbitan itu kurang gengsinya, mungkin ujung-ujungnya kepada penghargaan yang diterima,” ungkap Rully.

Namun, ia punya pertimbangan sendiri yang mengarahkan langkahnya memasuki dunia perbukuan. Menurut Rully, menjadi desainer buku harus mampu menguasai beberapa persoalan teknis yang saling terkait, yaitu penguasaan tipografi, kualitas ilustrasi, kualitas foto, dan komposisi. Dengan penguasaan itulah, seorang desainer buku mampu berkiprah.

Sumber: Kompas dan beberapa sumber lain.


AddThis Social Bookmark Button


Actions

Information

8 responses

21 02 2008
OdoyGiant

Tapi bang kalo perupa jarang bisa kompromi yach?

1 04 2008
agesvisual

Dear OdoyGiant…

Ooo begitu ya Dod?…Kompromi emang kadang susah buat perupa…kecuali “faktor internal” sudah bermain…Mungkin ini sih?

8 05 2008
Baka Ricco

Kalo lihat contoh cover ungangan gimana ya.?

14 07 2008
Mark Haban

Saya selalu mengagumi karya-karya Alfi, terutama karena sering dijadikan sampul buku…sangat berbicara…jika sempat silakan mampir ke galeri saya…Saya berharap ada karya yang pantas untuk sebuah cover buku…tengkyuu…

26 01 2010
Zoell

Kenapa gambarnya ada yang jorok..?? Itu kan gak di patut di liat umum….!!! Apalagi anak kecil…
Iyakan…….??????

24 03 2010
agesvisual

Dear Zoell…

Gambarnya saya ambil dari karya aslinya…saya ga berani merubah dalam konteks wacana yang saya tulis…maaf jika tidak berkenan…:)

26 01 2010
Zoell

Tapi saya juga menyukai karya – karya ini, saya suka melihatnya dan membacanya…I LIKE IT…Hhe…

24 03 2010
agesvisual

Dea Zoell…

Thanks ya Zoell..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: