Matinya Desain Grafis !

18 08 2007

Tidak lama lagi industri desain grafis akan runtuh. Para typesetter, pedagang alat grafis dan percetakan-percetakan pada tutup. Penyebabnya adalah perkembangan keajaiban teknologi, munculnya ribuan “clip design” (mau leaflet? brosur? poster? annual book? semua sudah jadi template tinggal ganti isi), dan kemandulan yang luar biasa parah dalam membujuk klien untuk percaya bahwa; “good design,” typesetting dan lain-lainnya adalah sesuatu yang pantas untuk dihargai dan dibeli.

Korban pertama adalah para typesetter. Karena tidak sanggup bersaing dengan kehadiran jutaan personal computer. Awalnya mereka mencoba merubah diri jadi biro jasa, jadi tempat nge print dengan resolusi canggih. Namun taktik ini umurnya singkat, tak lama kemudian laser printer rumah pun bisa semakin canggih resolusinya hingga ke taraf “lumayanlah.” Dan para desainer pun menemukan bahwa ternyata hasil print out yang agak kasar dari printer sendiri lebih asik, lebih manusiawi, ketimbang hasil biro typesetter.

kill-the-design
Korban selanjutnya adalah para desainer. Bertahun-tahun mereka sibuk berdebat tentang hakekat desain dan peran desainer. Pihak-pihak yang bertikai membagi diri ke dalam dua kelompok: ‘good’ designers dan ‘bad’ designers. Namun anehnya seringkali para ‘good’ desainer yang bad, dan para ‘bad’ desainer yang malah good. Akhirnya para klien pusing, gak tahu mana sebenarnya yang baik dan mana yang buruk, semua desainer pun dinafikan.

Dipersenjatai dengan teknologi desktop publishing dan clip designs nya, semakin hari semakin banyak perusahaan-perusahaan dan lembaga-lembaga (klien-klien), yang memboyong masalah grafis nya ke departemen grafis in-house sendiri. Bahkan pemerintah pun menggalang suatu program untuk membantu para sarjana, sastrawan, guru dan dosen, dan para penulis lain, untuk belajar mengenal computer grafis. Maka orang-orang ini nantinya dipakai jadi staff di in-house graphic departments, digaji murah, jauh lebih murah ketimbang bayar desainer.

Maka proyek makin sedikit, persaingan makin keras, didukung pula oleh teknologi untuk bekerja dengan cepat, biro desain memotong harga habis-habisan. Walau sudah sedemikian, para desainer jadi gak enak hati minta bayaran, sebab dengan komputer yang semakin canggih, proyek bisa selesai begitu saja, gak usah diapa-apain, enter sini, delete sana selesailah si proyek teh.

Setelah para desainer nganggur, korban terakhir adalah percetakan dan toko art-material. Nanti tiba saatnya di mana kita bisa mencetak dari komputer rumah terus lewat satelit, lalu dicetak di belahan bumi mana pun. Tidak perlu seorang manusia pun untuk melangsungkan proses itu. Apalagi ketika hasil cetak cyber yang bermutu rendah tersebut jadi trend, dianggap lebih keren ketimbang cetakan hasil mesin besar. Maka semua percetakan besar di bumi ini tutup bangkrut untuk selama-lamanya.

Ribuan bahkan jutaan typesetter, tukang cetak, tukang paste-up, dan desainer grafis pun akhirnya jadi gerombolan jalanan. Mereka keliling membawa pylox dan airbrush, mencari, menculik dan memperkosa majalah-majalah terlantar… majalah-majalah tersebut di retouch fotonya, di isi bagian-bagian kosongnya dengan ragam hias, ditambahi serif ke huruf-huruf sans-serifnya. Sepertinya keadaan ini sudah tak tertolong lagi.

Namun sebagaimana biasanya, sejarah suka berulang. Munculah virus komputer yang tak dikenal dan tak bisa dilawan. Dalam waktu yang singkat, semua komputer di seluruh dunia terjangkit. Tak ada satu komputer pun yang bisa mengeja atau dipakai menulis.

Padahal gara-gara sekian lama dimanja teknologi computer, di masa itu, sudah tidak ada lagi orang yang bisa mengeja, menulis, menyusun huruf apalagi menggambar, kecuali gerombolan para desainer jalanan yang tersisa. Maka keadaan berbalik, gerombolan ini mendadak menjadi sangat dibutuhkan.

Akhirnya desain grafis malah menjadi profesi yang paling mahal sedunia, para desainer grafis menjadi orang-orang yang paling berpengaruh di dunia, mereka mengatur semua perusahaan, lembaga, asosiasi dan juga semua sisi kehidupan yang penting.

Disarikan dari: D.L. Ogde, AIGA Journal of Graphic Design, vol. 4, no. 1, 1986.

AddThis Social Bookmark Button


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: