Advertising Untuk Anak

16 09 2007

Pertanyaan besarnya adalah: Advertising untuk anak-anak, benar atau salahkah? Bagi anak-anak, kemasan pembungkus McDonald’s adalah segalanya. The Chicago Sun Times baru-baru ini meliput, Are your kids McDonald’s brainwashed?

Sebuah artikel yang ditulis dengan mengikuti riset dari seorang guru besar pedriatic di Standford University, DR Tom N. Robinson. Studinya dilakukan dengan melibatkan 63 anak-anak usia 3-5 tahun dan selera makan mereka terhadap makanan produksi McDonald’s.

Pada setiap makanan buatan McDonald’s tersebut dibungkus dengan kemasan yang memiliki brand McDonald’s dan kemasan biasa tanpa brand McDonald’s. Percayakah anda, setiap kali anak-anak itu memakan makanan yang menggunakan bungkus kemasan tanpa brand McDonald’s, mereka selalu kehilangan selera.

McDonald’s Adv.


AddThis Social Bookmark Button

Advertisements




Billboard Meleleh

15 09 2007

Ini adalah billboard yang keren, efek tertentu dibuat pada tampilan visualnya dan dapat merubah mascara pada gambar mata menjadi meleleh manakala hujan. Sebuah pemikiran yang kreatif yang keluar daari format media iklan standar. Billboard yang di gagas dari dapur Leo Burnett ad agency  juga mengkonsepsinya sebagai “Presence in Second Life”.

Jim Thornton, executive creative director di Leo Burnett UK, memberikan penekanan lebih pada aspek alamiahnya sebuah gagasan dan final artwork. “Once we fully launch our presence in Second Life in November, we will be in the position to invite other SL residents to share in our creative experience. Our hub will be a source of inspiration and a place for like-minded individuals to connect and collaborate.” Nah…atas dasar penjelasan Jim Thornton tersebut…Saya kadang heran dengan adanya pemikiran yang masih mendefinisikan bahwa gagasan kreatif itu dengan ruang lingkup yang sempit.

AddThis Social Bookmark Button





TV Plasma, Sebuah Kronologi

13 09 2007

panasonic-th-50px60u-50

PDP (Plasma Display Panel), sebuah jenis TV generasi kedua yang dapat ditempatkan di dinding dan sering di perkenalkan melalui siaran atau surat kabar akhir-akhir ini. PDP adalah sebuah unit yang menampilkan gambar dengan menggunakan plasma yang dibentuk dari pelepasan gas seperti yang dapat kita perkirakan berdasarkan namanya. Diera informasi saat ini, informasi dikirimkan melalui media informasi seperti suara, cahaya,arus listrik, gelombang. Istilah multimedia adalah di mana berbagai bentuk media ini di lebur menjadi satu, sudah tidak asing bagi kita saat ini. Multimedia TV, Video CD, Digital Video Disk (DVD), HDTV, Interactive TV dan Internet, lainnya adalah product khas multimedia yang ada saat ini. Informasi yang dapat disimpan dalam otak manusia dikabarkan terbentuk dalam informasi gambar sekitar 3Mbps dan informasi suara sekitar 20ij 50Kbps. Dengan kata lain, informasi yang diterima oleh indra visual jauh lebih bermanfaat, sehingga pengiriman informasi visual lebih bermanfaat dan penting sekali.

CRT (Cathode Ray Tube) diperkenalkan tahun 1890 dan telah digunakan pada TV pada tahun 1929 dan TV berwarna diperkenalkan pada tahun 1953. Setelah lebih dari 40 tahun TV menjadi media paling penting dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi permintaan konsumen saat ini9 cenderung pada TV layar lebar sejalan denga peningkatan taraf hidup. Atas permintaan tersebut kelas TV dengan ukuran CRT 30” keatas muncul tetapi menunjukan keterbatasannya dalam berbagai cara. Oleh sebab itu konsumen beralih tertarik pada FPD (Flat Panel Display) dengan ukuran layar lebar lebih dari 40”.

Pengenalan PDP
FDP diklasifikasikan sebagai Emissive Display (Secara nama, elemen yang memancarkan cahaya sendiri) dan Non-Emissive Display (Secara nama, elemen yang tidak memancarkan cahaya sendiri). Termasuk Emissive Display FED (Field Emision Display), VFD (Vacuum Fluorescent Display), EL (Electro-luminescence), PDP (Plasma Display Panel), dll. Dan yang termasuk Non Emissive Display LCD (Liquid crystal Display) , ECD (Electr-Chromic Display), dll. Dari bermacam-macam FPD diatas salah satu yang paling dikenal adalah PDP.

Bahkan dalam sejarah, PDP TV lebih tahan lama dibandingkan dengan yang lainnya, termasuk CRT TV tetapi PDP memiliki masalah lebih banyak dibandingkan CRT TV. Tidak dapat disangkal lagi bahwa adanya kekosongan penelitian PDP untuk masa tertentu di bagian R&D.

Sebuah PDP satu warna telah dikembangkan oleh perusahaan Bell system Amerika pada tahun 1927, lebih awal dari pengembangan CRT TV yang dikembangkan pada tahun 1928 dalam dua tahun. Type DC PDP ditemukan pada tahun 1954 oleh 2 orang Profesor. Slotow dan Blitz di universitas Illinois, Amerika tahun 1964 diumumkan type AC PDP. Setelah 30 tahun berlalu sejak AC PDP ditemukan, R&D mulai bergema dalam pengembangan PDP, termasuk Korea dan Jepang. Membidik type yang dapat ditempatkan didinding untuk TV generasi terbaru.

Bagaimanapun juga sejarah menguji setelah ditemukannya PDP. PDP satu warna telah digunakan pada PC notebook diawal tahun 1980. Walaupun demikian hanya PDP yang diperbolehkan sebagai produk dengan orientasi gambar berwarna dengan ukuran besar. PDP adalah layar yang menggunakan plasma alami dan plasma yang dihasilkan dari pelepasan gas. Oleh karena itu kita tidak dapat menerangkan mengenai plasma dan pelepasan gas tanpa mengetahui stuktur dan prinsip PDP.

Plasma disebut sebagai “status/keadaan zat keempat” Keadaan zat ketiga disebut padat, cair dan gas. Perubahan dari padat menjadi cair dan dari cair menjadi gas dengan menggunakan panas, dimana jika menggunakan panas selanjutnya dari keadaan gas zat terpisah menjadi ion-ion dan elemen-elemen yang muncul sebagai partikel yang lepas. Keadaan ini dinamakan Plasma. Singkatnya Plasma sebagai grup partikel yang lepas.

Umumnya generasi plasma di dapatkan melalui pelepasan listrik daripada menggunakan metode panas. Mirip dengan plasma pada PDP juga dihasilkan melalui listrik, pelepasan gas oleh medan listrik dan elemen yang bebas dihasilkan melalui proses ionisasi dan juga diakselerasi oleh medan listrik Pengulangan proses tersebut menimbulkan rusaknya penyekat dan proses sepeti ini dinamakan “Avalanche Discharge” Plasma dimana pada PDP yaitu Pancaran cahaya plasma bertekanan tinggi yang mendekati tekanan atmosfir.


AddThis Social Bookmark Button





TV, Dahulu Kala

12 09 2007

Poster Iklan Baird Televisor, 1930Adalah suatu anugerah bagi kita, dengan hadirnya televisi yang memberikan begitu banyak informasi kepada kita. Beragam stasiun TV dengan aneka program siarannya yang disajikan dengan kualitas gambar dan tata suara yang apik, menjadikan televisi sebagai sumber segala informasi, berita, dan juga hiburan yang dibutuhkan kita semua. Hampir seluruh rumah tangga di Indonesia maupun dunia, memiliki sebuah televisi atau lebih.

Mari kita lihat sedikit sejarah televisi, dan menghargai para penemunya yang telah menghadirkan jendela dunia di ruang duduk keluarga kita, dimana semua benda lain dan kursi-kursi di dalamnya diatur untuk menghadap ke arahnya.

TV MEKANIK

Mungkin susah untuk dipercaya. Namun, penemuan cakram metal kecil berputar dengan banyak lubang didalamnya yang ditemukan oleh seorang mahasiswa di Berlin-Jerman, 23 tahun, Paul Nipkow[1883], merupakan cikal bakal lahirnya televisi.

 

Paul Gottlieb Nipkow
Baird Transmitter, 1926

Kemudian disekitar tahun 1920, para pakar lainnya seperti John Logie Baird dan Charles Francis Jenkins, menggunakan piringan Nipkow ini untuk menciptakan suatu sistem dalam penangkapan gambar, transmisi, dan penerimaannya. Mereka membuat seluruh sistem televisi ini berdasarkan sistem gerakan mekanik, baik dalam penyiaran maupun penerimaannya. Saat itu belum ditemukan Cathode Ray Tube [CRT].

Baird Televisor, 1930Vladimir Zworykin, yang merupakan salah satu dari beberapa pakar pada masa itu, mendapat bantuan dari David Sarnoff, Senior Vice President dari RCA [Radio Corporation of America]. Sarnoff sudah banyak mencurahkan perhatian pada perkembangan TV mekanik, dan meramalkan TV elektronik akan mempunyai masa depan komersial yang lebih baik. Insinyur lain, Philo Farnsworth, juga berhasil mendapatkan sponsor untuk mendukung idenya, dan ikut berkompetisi dengan Vladimir.

 

TV ELEKTRONIK

Televisi elektronik agak tersendat perkembangannya pada tahun-tahun itu, lebih banyak disebabkan karena televisi mekanik lebih murah dan tahan banting. Bukan itu saja, tetapi juga sangat susah untuk mendapatkan dukungan finansial bagi riset TV elektronik ketika TV mekanik dianggap sudah mampu bekerja dengan sangat baiknya pada masa itu. Sampai akhirnya Vladimir Kosmo Zworykin dan Philo T. Farnsworth berhasil dengan TV elektroniknya. Dengan biaya yang murah dan hasil yang berjalan baik, orang-orang mulai melihat kemungkinan untuk beralih sistem.

GE Octagon Mechanical Television, 1928Baik Farnsworth, maupun Zworykin, bekerja terpisah, dan keduanya berhasil dalam membuat kemajuan bagi TV secara komersial dengan biaya yang sangat terjangkau. Di tahun 1935, keduanya mulai memancarkan siaran dengan menggunakan sistem yang sepenuhnya elektronik. Kompetitor utama mereka adalah Baird Television, yang sudah terlebih dahulu melakukan siaran sejak 1928, dengan menggunakan sistem mekanik seluruhnya. Pada saat itu, sangat sedikit orang yang mempunyai televisi, dan yang mereka punyai umumnya berkualitas seadanya. Seadanya disini, mungkin tidak seperti yang kita bayangkan, namun pada masa itu ukuran layar TV hanya sekitar tiga sampai delapan inci saja, sehingga persaingan mekanik dan elektronik tidak begitu nyata, tetapi kompetisi itu ada disana. Sistem yang lebih unggul akan mematikan lawannya.

Tahun 1939, RCA dan Zworykin siap untuk program reguler televisinya, dan mereka mendemonstrasikan secara besar-besaran pada World Fair di New York. Antusias masyarakat yang begitu besar terhadap sistem elektronik ini, menyebabkan the National Television Standards Committee [NTSC], 1941, memutuskan sudah saatnya untuk menstandarisasikan sistem transmisi siaran televisi di Amerika. Lima bulan kemudian, seluruh stasiun televisi Amerika yang berjumlah 22 buah itu, sudah mengkonversikan sistemnya kedalam standard elektronik baru.

TV RCA, Tipe TT5, 1939Pada tahun-tahun pertama, ketika sedang resesi ekonomi dunia, harga satu set televisi sangat mahal. Ketika harganya mulai turun, Amerika terlibat perang dunia ke dua. Setelah perang usai, televisi masuk dalam era emasnya. Sayangnya, pada masa itu, semua orang hanya dapat menyaksikannya dalam tata warna hitam putih.

TV BERWARNA

Sebenarnya CBS sudah lebih dahulu membangun sistem warnanya beberapa tahun sebelum rivalnya, RCA. Tetapi sayang sekali bahwa sistem mereka tidak kompatibel dengan kebanyakan TV hitam putih diseluruh negara. CBS, yang sudah mengeluarkan banyak sekali biaya untuk sistem warna mereka, harus menyadari kenyataan bahwa pekerjaan mereka berakhir sia-sia. RCA, yang belajar dari pengalaman CBS, mulai membangun sistem warna mereka sendiri. Mereka dengan cepat membangun sistem warna yang mampu juga untuk diterima sistem hitam putih [BW]. Setelah RCA memamerkan kemampuan sistem mereka, NTSC membakukannya untuk siaran komersial thn 1953.

Artikel Televisi, 1928

Berpuluh tahun kemudian hingga awal milenium baru, abad 21 ini, orang sudah biasa berbicara lewat telepon selular digital dan mengirim e-mail lewat jaringan komputer dunia, tetapi teknologi televisi pada intinya tetap sama. Tentu saja ada beberapa perkembangan seperti tata suara stereo dan warna yang lebih baik, tetapi tidak ada suatu lompatan besar yang mampu untuk menggoyang persepsi kita tentang televisi. Tetapi semuanya secara perlahan mulai berubah. Televisi mulai memasuki era digital.

Inilah mereka para pelopornya:

  • Paul Nipkow [1860-1940], Berlin-Jerman
  • John Logie Baird [1888-1946], Scotland-Inggris
  • Charles Francis Jenkins [1867- 1934], Amerika Serikat
  • Vladimir Kosmo Zworykin [1889-1982], Rusia. Setelah revolusi Bolshevik, bermigrasi ke Amerika tahun 1919.
  • Philo T. Farnsworth [1906-1971], Amerika Serikat
  • David Sarnoff [1891-1971], Amerika Serikat. Mulai terkenal 1912 ketika bekerja sebagai operator telegram pada Marconi Company of America yang menerima data penumpang yang lolos dari maut saat tenggelamnya Titanic.

AddThis Social Bookmark Button





Kesan Pertama Sampul Buku

11 09 2007

Cover Cookbook

“The first impression means everything!” Demikian kalimat utama yang terpampang dalam salah satu website yang menawarkan jasa pembuatan sampul buku. Tulisan tersebut cukup menyiratkan pesan bahwa desain sampul buku itu sangat penting bagi keberadaan sebuah buku. Sedemikian pentingnya hingga menyadarkan para penerbit bahwa para pembeli buku kini tidak hanya sekadar tertarik pada isi buku yang dijajakan, namun juga pada visualisasi sampul. Bahkan, sering kali sampul buku diposisikan sebagai pintu utama bagi calon pembeli untuk melihat lebih lanjut sebuah buku.

Hawe Setiawan, editor Penerbit Pustaka Jaya, mengungkapkan bahwa tidak dapat dimungkiri sampul telah menjadi etalase bagi sebuah buku di hadapan pembaca. “Yang sangat terasa kalau sedang pameran, orang melihat buku sering kali sepintas saja, kalo tampilannya menarik, baru orang memutuskan mendekat dan membeli,” ujar Hawe.

Pengamatan terhadap perilaku konsumen dalam pembelian buku ini menarik untuk dikaji. Pasalnya, keberadaan sampul buku semenjak kemunculannya yang pertama kali-sejak dicetaknya kitab suci-masih berfungsi sebatas sebagai pelindung isi naskah yang telah disatukan. Kini, ketika buku telah menjadi salah satu komoditas, cara menyajikan pelindung isi naskah pun telah berubah, fungsi keindahan dan nilai bisnis dari sebuah sampul buku menjadi perhatian utama penerbit.

Di Indonesia sendiri, sampul buku mulai dikenal ketika masuknya buku-buku berjilid yang dibawa oleh orang Belanda. Tipografi di depan sampul masih sangat klasik dan konvensional dengan teknologi huruf timah. Namun, lambat laun ketika teknologi desain grafis semakin berkembang, para pembuat sampul buku menjadi lebih kreatif menghasilkan beragam kreasi sampul buku. Di awal tahun 1970-an, misalnya, teknologi offset sudah memungkinkan penggunanya untuk memindahkan gambar pada sampul buku, bahkan untuk mencetak sebuah karya perupa seperti yang sudah dipraktikkan oleh Penerbit Pustaka Jaya. Perkembangan demikian semakin mendorong nilai-nilai estetika sebuah buku bersama sampulnya.

Dalam teknologi percetakan dan desain grafis semakin terpacu oleh semakin ketatnya persaingan bisnis di dunia penerbitan buku. Dalam persaingan bisnis, para pelaku yang terlibat di dalamnya berlomba untuk memasarkan produknya agar konsumen berminat melihat dan membelinya. Kini, salah satu strategi bisnis dalam menjual buku adalah membuat tampilan fisiknya menarik, yaitu melalui desain sampul bukunya. Strategi ini diakui oleh beberapa penerbit hingga mereka merasa perlu mendesain sebuah sampul buku dengan baik.

Pengalaman Penerbit Kiblat, Bandung, menarik dipaparkan. Bagi penerbit ini, untuk meraih pasar yang bagus tidak cukup hanya dengan membangun jaringan distribusi yang baik, namun harus dibarengi dengan tampilan fisik yang menarik pula. Sebelumnya, penerbit, yang berfokus pada penerbitan buku-buku sastra Sunda, ini sempat mengalami kecemasan karena sastra Sunda kurang disukai khalayak. Dalam kecemasan, mereka mencoba strategi baru, yaitu mencetak buku-buku sastra Sunda dengan tampilan fisik yang menarik sebagaimana tren sampul buku yang terjadi saat ini. “Ternyata pasar antusias dengan buku-buku Kiblat,” ujar Rahmat Taufik. Kurun waktu dua tahun terakhir sudah 40 buku berbahasa Sunda yang mereka terbitkan dengan respons pembeli cukup baik.

Penggantian sampul buku juga diyakini oleh Dorothea Rosa Herliany tidak hanya meningkatkan penjualan, tetapi juga kesan masyarakat terhadap penerbit. Ia menuturkan, kumpulan cerpennya Perempuan Yang Menunggu awalnya diterbitkan hanya 2.000 eksemplar. Selama lima tahun lamanya Rossa tidak pernah mendengar kabar cetakan pertama bukunya tersebut, apakah habis terjual atau tidak. Akhirnya, Rossa memutuskan menerbitkan ulang bukunya di penerbitannya sendiri dengan membuat sampul sendiri yang jauh lebih menarik. Hasilnya sangat memuaskan, yaitu 1.500 eksemplar bukunya habis dalam waktu 6 bulan, bahkan mengalami cetak ulang. Meski tidak dilakukan penelitian khusus bahwa peningkatan penjualan disebabkan oleh sampul buku, tidak menutup kemungkinan sampul yang eye catching mampu memikat pembeli. Bahkan, secara tidak terduga sampul buku kumpulan cerpen tersebut justru menjadi brand image terhadap penerbitannya. “Sekarang, walaupun sudah ada kumpulan cerpen yang lain, orang tetap mengingat yang itu saja,” kata pemilik penerbitan Indonesiatera ini.

Indonesiatera

Cover terbitan Indonesiatera

Di mata Priyanto Sunarto, pengajar senior Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Bandung, tuntutan akan tampilan sampul buku yang lebih baik, selain disebabkan oleh persaingan pasar dan perkembangan teknologi komputer, juga dapat dimungkinkan oleh pengalaman visual yang semakin baik dari masyarakat. Ia melihat masyarakat saat ini dapat membedakan desain sampul buku yang modern dan yang sudah ketinggalan zaman.

Dalam kondisi seperti itu, para penerbit semakin merasa perlu menciptakan imaji dengan membangun konsep pada tiap jenis terbitannya. Anas Syahrul Alimi, pimpinan Penerbit Jendela dan Pustaka Sufi, misalnya, sangat menyadari hal demikian. Dalam praktik penerbitan, Anas kerap menyertakan simbol Islam untuk terbitan Pustaka Sufi dan gaya klasik untuk Jendela. Ilustrasi buku-bukunya sering kali diambil dari buku-buku impor yang kemudian diberi credit title.

Pengalaman visual konsumen itu juga dirasakan oleh Anas dari hasil pengamatannya. Ia melihat pertama kali orang melihat buku dari sampul depan kemudian penulis dan sampul belakang. “Ada orang membeli buku bukan karena isi buku, tetapi karena sampulnya,” lanjut Anas. Apalagi bagi orang yang sangat apresiatif terhadap karya seni rupa, isi menjadi tidak penting lagi, tetapi visualisasi yang ditampilkan sampul buku.

Maraknya ragam desain sampul buku belakangan ini tidak lepas dari kehadiran para desainernya. Sampul buku yang menarik tentu memerlukan suatu kreativitas tersendiri dari para desainernya. Dalam menentukan tema desain, biasanya pihak penerbit ikut merencanakan tema yang akan dibuat, tetapi hasil akhir gambarnya diserahkan sepenuhnya pada ilustrator atau desainer. Ilustrator dan desainerlah yang harus dapat menghasilkan imajinasi ilustrasi yang sesuai dengan isi buku, di sinilah kerja keras dan kreativitas seorang desainer dibuktikan.

Di sisi lain, munculnya desain-desain buku dengan menggunakan hasil karya lukisan tidak kurang menimbulkan gairah baru. Di kalangan para perupa atau pelukis sendiri, sampul buku merupakan medium baru yang dapat memperluas pasar mereka. Artinya, peluang untuk mendapatkan uang akan lebih besar dibandingkan hanya mengandalkan pasar lukisan meskipun secara kuantitas jumlahnya tentu saja jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga karya lukisnya. Sebagai gambaran, satu karya lukis untuk sampul buku rata-rata dihargai antara Rp 200.000-Rp 400.000. Jumlah ini dianggap sesuai karena ukuran gambar yang tidak besar sehingga membutuhkan waktu lebih sedikit dibandingkan dengan membuat lukisan dinding.

Namun, untuk beberapa nama-nama tenar yang selama ini sudah dikenal luas penilaian harga lebih dari jumlah tersebut. Meskipun demikian, patokan harga itu tidak berlaku secara umum. Ada juga penerbit yang karena kedekatannya dengan perupa atau pelukis, justru tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk pemakaian karya tersebut. Lukisan Joko Pekik adalah salah satu contohnya. “Dia sudah senang karyanya saya pakai selain karena saya juga mengoleksi lukisannya. Tetapi, itu Joko Pekik yang belum seperti sekarang, yang harga lukisannya sudah melangit,” papar Buldan dari Penerbit Bentang.

Menelisik Jejak Sampul Buku

Sampul buku tak dimungkiri adalah iklan untuk menarik pembeli sebelum teks di dalamnya dibaca. Namun demikian, sampul buku yang didesain sedemikian rupa menjadikan buku tidak sekadar sebagai informasi, melainkan sesuatu yang menunjukkan nilai hubungan antara si pembuat buku dan pembacanya. Pada awalnya sampul buku dikaitkan dengan fungsi penjilidan buku dan tidak memiliki elemen dekoratif. Sampul-sampul buku yang didesain khusus baru muncul pada abad 19 di Inggris. Salah satu buku yang menjadi pembicaraan pada masa itu di Inggris adalah The Yellow Book, an Illustrated Quarterly, Volume One, April 1894 dengan desainer Aubrey Beardsley dan Oscar Wilde.

The Yellow Book

The Yellow Book Volume 1

Setelah tahun 1900, sampul buku mulai dianggap sesuatu yang umum digunakan meskipun sebagian besar bentuknya hanya mengulang cetakan dari penjilidan buku. Ada beberapa buku yang juga menambahkan informasi di sampul belakang, tetapi hanya sedikit buku yang mencantumkan semacam ringkasan isi buku sebagai sebuah promosi. Gambar-gambar biasanya banyak digunakan untuk buku-buku tertentu, terutama buku cerita anak-anak.

Adanya persaingan yang cukup tinggi di dunia perdagangan buku pada masa menjelang perang dunia pertama, membuat beberapa penerbit merasakan perlunya buku digarap oleh desainer khusus, seperti halnya para perempuan memiliki penjahit khusus untuk desain baju-baju mereka. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa sampul buku akan mendongkrak nilai tambah buku. Sayangnya, perkembangan ini terpaksa berhenti selama perang dunia pertama dan pulih kembali setelah tahun 1920-an hingga 1930-an.

Selama periode ini, terjadi perkembangan periklanan dan studi mengenai penjualan. Tingginya angka penjualan pada barang-barang bermerek dan komoditas dengan kemasan khusus, memberi inspirasi pada para penerbit untuk membangun sebuah citra produk dan menciptakan berbagai genre buku yang mudah dikenali oleh para pembaca. Pada masa itu, citra visual juga mulai dikenal luas masyarakat setelah penemuan “gambar hidup” atau film. Akibatnya, para pembaca mulai terbiasa menikmati citra visual sebaik membaca teks tertulis.

Perjalanannya, perkembangan teknologi separasi warna turut mempengaruhi kualitas efek visual yang lebih tajam. Teknologi ini pun ikut menghidupkan kegiatan akademis sehingga para penerbit saat itu bisa berkolaborasi dengan akademisi di bidang seni desain. Situasi seperti ini dan ditambah dengan kondisi pasar yang lesu setelah depresi ekonomi pada gilirannya berpengaruh mengaburkan batas antara seni “komersial” dan seni “tinggi”.

Peluncuran buku-buku dari Penerbit Penguin Books mengubah sejarah penerbitan buku, khususnya di Inggris menjelang tahun 1940-an. Penerbit ini berhasil menciptakan citra produk melalui desain sederhana sampul buku-bukunya, termasuk penciptaan simbol penguin dan pemilihan jenis paperback yang membuat harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan buku-buku penerbit lain yang umumnya dicetak dengan hardback. Penguin juga membuat ciri khas warna untuk setiap jenis buku yang diterbitkannya: jingga untuk buku fiksi, biru gelap untuk biografi, hijau untuk buku tentang kriminalitas dan misteri.

Penguin Book

Cover Paperback Penguin Book Publisher

Era tahun 1960-an hingga tahun 1970-an terjadi lonjakan buku-buku paperback, mengikuti jejak penerbit Penguin. Masa ini, buku-buku terbitan Penguin tetap memakai karakter khas untuk setiap jenis buku, namun elemen visual dengan gambar-gambar menarik tampak lebih dominan dibandingkan dengan elemen visual huruf pada awal berdirinya Penguin. Penemuan teknologi pencetakan berwarna yang murah, airbrushing serta lettraset ikut mendorong perkembangan ini. Terlebih pemakaian komputer memungkinkan para desainer bereksplorasi tanpa batas.

Saat ini, teknologi kembali beraksi. Teknologi memungkinkan kehadiran buku-buku digital atau e-book. Namun, sekalipun kini mulai mengisi pasar, tidak otomatis membuat era buku-buku Guttenberg berakhir. Paling tidak belum saatnya.

Sumber: Kompas dan beberapa sumber lain.


AddThis Social Bookmark Button





Cover Buku, Galeri Para Perupa

11 09 2007

Ketika awal dimulainya era penjilidan kitab suci, fungsi sampul buku tidak lebih untuk melindungi isi naskah yang telah disatukan. Kini, ketika buku telah menjadi salah satu komoditas, cara menyajikan pelindung isi naskah pun telah berubah. Goresan kuas para pelukis banyak menghias sampul buku. Sampul buku tidak lagi sekadar pelindung, tetapi telah menjadi galeri bagi karya para pelukis ataupun perupa.

Buku berjudul Di Bawah Langit Tak Berbintang karya Utuy Tatang Sontani yang terbit di bawah bendera Pustaka Jaya dapat dijadikan contoh. Buku terbitan tahun 2001 ini dibungkus dengan sampul karya perupa yang aktif dalam kegiatan Jaringan Kerja Budaya (JKB), Alit Ambara. Bahkan, dipakainya karya-karya para seniman untuk sampul buku ini sudah dimulai oleh penerbit Pustaka Jaya sejak tahun 1971. Karya-karya pelukis seperti Nashar, Wakidjan, IP Ma’aruf, Nana Banna, atau Popo Iskandar turut menghias buku-buku sastra keluaran penerbit yang dikomandani Ayip Rosidi itu.

Alit Ambara

 Alit Ambara

Kini Pustaka Jaya tidak sendirian. Jejak penerbit itu diikuti oleh penerbit Bentang Budaya yang juga pada beberapa buku keluaran penerbit Yogyakarta ini memanfaatkan karya-karya pelukis dan perupa seperti Joko Pekik, Dadang Kristanto, Agung Kurniawan, dan Jumaldi Alfi. Kerja sama penerbit dengan para perupa atau pelukis ini menjadikan buku tidak hanya sebagai sebuah karya intelektual, tetapi sekaligus juga karya seni.

Agung Leak

Agung Kurniawan-Leak

Kecenderungan memanfaatkan karya perupa atau pelukis untuk dijadikan sampul sebuah buku, di satu sisi merupakan sebuah kolaborasi kerja antara penerbit dan seniman dan menjadikan buku tersebut sebuah karya seni. Di sisi lain, para perupa atau pelukis mendapatkan medium untuk menggelar karya-karya mereka. Penciptaan medium baru ini memungkinkan para perupa tetap bebas berkreasi seperti halnya ketika menuangkan kreativitas melalui medium lukisan.

Ada dua proses yang biasanya berlangsung di dalam kolaborasi ini. Pertama, perupa sudah membuat lukisan sebelum para penerbit mengetahuinya. Ketika para penerbit mempunyai naskah yang isinya dianggap cocok untuk dicitrakan dengan karya si perupa, terjadilah kolaborasi itu. Seperti yang terjadi pada karya Alfi. Ia membuat sebuah lukisan yang menurut Buldan, dari penerbit Bentang, sangat liris dan naratif. Karya ini, menurut dia, sangat pas untuk dijadikan kover bagi buku karya Leo Tolstoy yang berjudul Kalender Kearifan, Pikiran Bijak Hari ke Hari.

“Ketika memilih dan membaca naskah Leo Tolstoy itu, saya langsung ingat karya Alfi ini. Saya merasa lukisan itu sangat tepat untuk dijadikan sampul buku ini. Lukisan itu saya potret, lalu di-scan, di-cropping sana-sini, sesuai kebutuhan desain,” papar Buldan.

Begitu pula ketika Bentang hendak menerbitkan buku Emha Ainun Nadjib berjudul Gerakan Punokawan. Sebelum naskah buku ini akan diterbitkan, Buldan sudah mempunyai koleksi lukisan Joko Pekik tentang punokawan. “Menurut saya, sampai saat ini belum ada pelukis yang mampu menggambarkan punokawan atau petani dengan begitu hidup seperti yang dilakukan Joko Pekik. Artinya, petani maupun punokawan dilukiskan tidak sekadar sebagai obyek eksotisme, tetapi mengekspresikan sesuatu,” jelas Buldan yang lulusan jurusan Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia (ISI).

Proses kedua, penerbit mempunyai naskah dan meminta perupa untuk membuatkan lukisan sesuai isi naskah. Dalam proses ini, perupa akan membaca naskah dan menginterpretasikan isi naskah. Berdasarkan interpretasi inilah ia menentukan gagasan utama yang hendak disampaikan naskah yang dituangkan lewat goresan kuasnya. Seperti yang dilakukan Alit Ambara ketika membuat lukisan untuk buku Di Bawah Langit Tak Berbintang.

“Saya membaca naskah, dan dari situ saya menangkap gagasan tentang penderitaan yang dialami para eksil, orang Indonesia yang dianggap kiri oleh rezim Orde Baru yang sedang berada di luar negeri pada saat peristiwa tahun 1965 terjadi, dan karena itu tidak dapat kembali ke Tanah Air. Karena konteks cerita itu adalah negeri Cina masa kekuasaan Mao Zedong, maka saya membuat lukisan siluet Mao dan orang- orang eksil yang dalam keadaan menderita,” tutur Alit Ambara, lulusan jurusan Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Pada proses kedua terjadi diskusi antara penerbit dan perupa meskipun perupa tetap bebas menentukan citra yang akan dilukisnya. “Prinsipnya, hasil diskusi itu bukan mutlak harus diikuti oleh perupa seperti halnya seorang ilustrator yang mengikuti apa yang diperintahkan. Ia hanya menjadi pedoman perupa atau pelukis untuk membuat citra lukisannya,” jelas Buldan.

Paparan ini disetujui pula oleh Alfi yang sudah menghasilkan sekitar 40-an karya lukis untuk sampul buku. “Lukisan yang saya hasilkan semuanya berkaitan dengan proses pencarian pribadi. Kuncinya adalah karya yang mau dihasilkan itu ada kedekatan tidak dengan apa yang sedang saya pikirkan. Seandainya ada, berarti saya dengan mudah mengerjakannya. Tetapi, kalau tidak ada kedekatan dan saya paksakan untuk berkarya, hasilnya hanya berupa goresan tanpa jiwa. Kalau terjadi demikian, terpaksa saya katakan kepada penerbit bahwa saya tidak bisa meneruskan membuat lukisan untuk sampul buku tersebut,” tutur Alfi.

Saat ini juga terdapat kecenderungan bahwa jenis buku yang memanfaatkan karya para perupa atau pelukis untuk sampulnya adalah buku-buku sastra, seni, dan filsafat. Hampir tak ada buku-buku jenis How To, seperti buku-buku psikologi, manajemen, ataupun komputer, yang memajang karya para perupa. Hal ini diakui pula oleh penerbit Bentang. “Ada jenis-jenis buku yang mungkin justru menjadi tidak bagus kalau diberikan ilustrasi para perupa. Buku manajemen atau komputer, misalnya, cukup ditutupi oleh karya seorang desainer dengan penguasaan aspek-aspek visual tertentu,” jelas Buldan.

Jumaldi Alfi

Jumaldi Alfi 

Kecenderungan ini, menurut Sumbo Tinarbuko-seorang pengamat desain dan pengajar di jurusan Desain Komunikasi Visual ISI-berkaitan dengan upaya mendongkrak oplah jenis-jenis buku yang terbilang nonpraktis. “Pembaca buku- buku sastra, filsafat, sosial politik, kan, terbatas jumlahnya. Ini sangat berbeda dengan buku-buku seperti marketing atau komputer yang biasanya cukup laris. Oleh karena itu, buku-buku jenis sastra tadi perlu dibantu dengan sampul yang menarik,” tutur Tinarbuko.

Fenomena sampul buku memakai karya perupa ini, menurut Sumbo Tinarbuko, merupakan pengemasan cara saji buku ataupun ekspresi seni yang bervariasi. “Analoginya adalah ada mi yang disajikan dengan cara dibungkus dan ada yang dimakan di tempat dengan piring atau mangkok,” paparnya.

Variasi tersebut tak bisa dimungkiri, menurut Sumbo, karena itu adalah hasil kedekatan dan kreativitas para penerbit yang secara jeli mampu menangkap media ekspresi seni rupa alternatif selain yang selama ini sudah dikenal. Hal ini juga bisa kita lihat kecenderungan cerpen-cerpen di surat kabar yang mulai menggunakan ilustrasi dari karya para pelukis atau perupa.

“Meskipun ini adalah hasil rekayasa kawan-kawan pers, hal itu jelas memperkaya dunia seni rupa kita dan memberi tantangan baru bagi para desainer komunikasi visual untuk terbuka terhadap berbagai macam material,” tandas pengajar yang juga menjadi konsultan desain komunikasi visual itu.

Yang Mendobrak Selera Pasar

Pembaca kini dapat menikmati seni rupa dalam sampul buku dengan berbagai gaya lukisan dan desain warna yang sangat memikat. Gambar demikian menarik lantaran merupakan gabungan dari dua disiplin ilmu yang sebenarnya terpisah, yaitu seni rupa dan desain grafis. Desain sampul yang demikian seakan sudah menjadi genre baru dalam dunia sampul buku negeri ini. Kreasi demikian tidak lepas dari sosok Harry Wahyu, atau lebih dikenal dengan si “Ong”. Pria kelahiran Madiun, 22 Desember 1958, ini sempat mengenyam pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta, jurusan Grafic Art, dan mempelajari seni murni tahun 1980.

Bersama rekan-rekannya dari jurusan Arsitektur UGM, Yogyakarta, Ong mendirikan kelompok Salahuddin Press tahun 1983 yang salah satu kegiatannya siap sedia menerima permintaan penerbit untuk membuat ilustrasi sampul buku. Semula usahanya itu dilakukan guna mencari tambahan biaya. Namun, ternyata profesinya ini menjadi mata pencaharian.

Ketertarikannya pada sampul buku lahir setelah dia mengamati sampul kaset kelompok musik Yes asal Inggris yang tidak menampilkan personel group bandnya, tetapi ilustrasi. Sangat berbeda dengan desain sampul kaset Indonesia yang selalu didominasi oleh sosok sang artis. Ternyata, bahasa visual dapat memberi inspirasi dan menciptakan kesan dari yang melihatnya. “Sang tokoh tidak perlu ada, tetapi justru menampilkan kesan yang lebih hebat bagi penggemarnya,” lanjut Ong.

Melihat persoalan baginya tidak harus selalu mengikuti mainstream yang berlaku. Inilah yang dilakukan Ong dalam setiap pengamatannya sekaligus dalam berkarya. Ketika dia diminta membuat ilustrasi sampul buku, misalnya, Ong tidak peduli dengan kaidah-kaidah yang sudah mapan saat itu. Namun, dia berkarya untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik dengan menggunakan segala pengetahuan yang dimilikinya. “Saya enggak mau ngikutin pasar, biar pasar yang ikut kita aja. Kalo kita selalu ngikutin selera pasar, kan, enggak akan berkembang, enggak pinter-pinter nanti pasarnya,” ungkapnya.

Prinsip ini dibuktikan ketika dia membuat ilustrasi sampul buku yang berkaitan dengan agama Islam. Ong tidak membuat ilustrasi dengan mengambil nuansa Timur Tengah, tetapi gambar orang bersepeda yang berhenti di bawah pohon kelapa untuk melaksanakan shalat. Mendesain sampul buku baginya merupakan sesuatu pekerjaan yang sangat menyenangkan dan berlaku sangat universal. Hingga kini lebih kurang sudah 500 desain sampul buku yang dibuatnya.

Cover-Cover

Cover Karya Alit Ambara dan Rully Susanto 

Jika Ong lebih banyak berkiprah di Yogyakarta, di Jakarta nama Rully Susanto cukup dikenal sebagai pendesain sampul buku yang berkarakter. Rully bergabung di Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Ia mengaku secara tidak sengaja berkecimpung dalam dunia perbukuan. Menurut dia, sebagian besar lulusan sekolah desain sebenarnya lebih banyak memilih bekerja di bidang advertising yang dianggap memiliki gengsi tinggi. Setelah bidang advertising, lulusan sekolah desain lebih suka memilih sebagai tenaga desain grafis yang khusus memproduksi logo, profil perusahaan, dan sejenisnya. “Jadi, posisi desain grafis di penerbitan itu kurang gengsinya, mungkin ujung-ujungnya kepada penghargaan yang diterima,” ungkap Rully.

Namun, ia punya pertimbangan sendiri yang mengarahkan langkahnya memasuki dunia perbukuan. Menurut Rully, menjadi desainer buku harus mampu menguasai beberapa persoalan teknis yang saling terkait, yaitu penguasaan tipografi, kualitas ilustrasi, kualitas foto, dan komposisi. Dengan penguasaan itulah, seorang desainer buku mampu berkiprah.

Sumber: Kompas dan beberapa sumber lain.


AddThis Social Bookmark Button