Manajemen Sebuah Project Desain

17 12 2007

Lulusan sekolah desain gafis atau desain komunikasi visual saat ini mempunyai skill yang cukup baik, beberapa bahkan di atas rata-rata. Tapi ketika dapat sebuah project (yang sebenarnya kecil) kadangkala langsung mengalami gagap manajemen dan kebingungan dalam melakukan ‘organizing’ project. Tanya sana, tanya sini, tanya teman, tanya sama senior bahkan tanya dosen. Terus kalo disebutkan sejumlah angka, mereka akan protes: “Kok segitu sih? Kecil banget…Desain kan mahal!”

Beberapa pertanyaan dari teman-teman yang kebetulan mendapat sebuah project/side job masih berkisar masalah-masalah yang mendasar. Namun ada beberapa pertanyaan yang juga menyangkut persoalan manajemen project desain yang kompleks. “Berapa sih harga sebuah brosur?” atau “Kok harga desain katalog sama dengan desain poster?” bahkan sampai “Client saya butuh contoh produk padahal projectnya belum rampung perjanjiannya, gimana nih?”

Sebuah wacana yang tak pernah kunjung selesai: “Bagaimana menetapkan harga sebuah desain?”. Ada jargon yang harus selalu dingat, bahwa “Desain yang bagus itu yang sudah dibayar!”. Memang masalah klasik, tapi perlu pemahaman yang lebih kontemporer, paling tidak untuk saat ini. Setiap desainer, selain memiliki hak untuk dibayar, juga memiliki kewajiban untuk membuat manajemen dalam desain grafis. Apa itu? Bukan sekedar memberi harga sekian, bikin, jadi, langsung dibayar! Desainer yang baik dan mampu bersaing, harusnya mampu melakukan lebih dari sekedar itu semua.

Dalam sebuah project, baik itu besar maupun kecil haruslah memakai prosedur standar. Hal ini perlu dilakukan agar kita sebagai desainer mampu melakukan tugas secara profesional dan tidak disepelekan oleh client. Banyak juga terdengar cerita dari teman-teman yang mengeluh terhadap client yang banyak tuntutan, revisi terus menerus, harga yang tak pantas, dan waktu kerja yang semakin memanjang tak tentu habisnya. Ini adalah isyu yang menarik, karena banyak dari para rekan-rekan desainer yang dengan terpaksa menerima project dengan client yang tidak jelas, alasannya sederhana: “Gak papa deh, dari pada gak ada kerjaan.”

Manajemen Sebuah Project Desain

Namun kalau kita amati secara mendalam, intinya adalah segala sesuatunya dimulai dari pro-aktif desainer, bukan dari client. Kenapa? Karena client datang kepada desainer dengan sebuah masalah. Dan sudah selayaknya kita desainer tidak lagi merepotkan mereka dengan ini-itu dan mampu menciptakan sebuah solusi yang tepat untuk permasalahan mereka.

Ada beberapa elemen yang perlu diperhatikan pada awal sebuah project terutama elemen-elemen dalam manajemen, diantaranya adalah:

1. Planning
Dalam tahapan ini perlu adanya perencanaan yang matang pada awal sebelum project dimulai. Perencanaan meliputi:

  • Time Planning, seperti membuat timeline project yang harus disetujui oleh klien. Timeline dibuat secara detail mulai dari proses konsep, desain, FA, sampai produksi, tergantung dari permintaan klien. Yang pasti disini terlihat profesionalisme kita para desainer dalam menghargai waktu dan deadline.
  • Work Planning, seperti membuat workflow yang jelas. Tahapan demi tahapan disebutkan secara detail sehinggal klien tidak bisa seenak-enaknya mundur lagi ketahapan awal kalo dia sudah approval tahapan selanjutnya. Bisanya dibuat yang namanya Appoval Form untuk ditandatangani klien per tahapan project.
  • Financial Planning/Budgeting. Sering disebut quotation yaitu penawaran harga. Mesti dihitung secara detail penggabungan antara design fee dengan ongkos/biaya lain seperti kertas, print, pembuatan mock-up, fotografi, dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan desain yang dibuat. Hal ini dimaksudkan agar jangan terjadi kerugian secara finansial bagi desainer itu sendiri. Karena material dan biaya serta ongkos seperti diatas itu tidak termasuk ke dalam design fee.

2. Orginizing
Mengatur semua elemen-elemen dalam proyek tersebut. Sebab tentunya dalam sebuah project akan melibatkan banyak waktu dan tenaga. Kendali ada di tangan desainer jika dia merupakan orang nomer satu. “Siapa-harus-bertanggung-jawab-kepada-apa” adalah mutlak untuk diatur secara benar didalam project tersebut.

3. Stuffing
Memaksimalkan segala fungsi-fungsi team yang ada. Misalkan kita sebagai seorang desainer bisa meminta tolong pembantu untuk memfoto copy, kurir untuk mengantarkan barang, atau paste up artist untuk membuat mock-up. Kalau pun pada akhirnya seorang desainer itu mengerjakan semua, maka harus dihitung tenaga dan waktu yang dikeluarkan.

4. Directing
Seorang desainer harus mampu mengarahkan, mengatur, dan memotivasi diri sendiri dalam sebuah project guna tercapaikan tujuan project tersebut yang yang pada akhirnya akan menjadi sebuah solusi bagi masalah client.

5. Controlling
Ini yang sering dilupakan. Buatlah sebuah form checklist dalam setiap project untuk menghindari kesalahan-kesalahan kecil. Form berguna untuk memeriksa kembali apakah desain yang kita buat sudah sesuai denga brief dan mandatory client. Sering kali karena kesalahan kecil, seorang desainer harus menderita kerugian yang begitu besar. Misalkan saya salah ketik huruf, lupa konversi warna ke CMYK dan sebagainya.

Perlu diingat adalah bahwa ternyata skill bagus saja tidak cukup apabila kerja tidak sistematis malah kemungkinan karya tidak bisa dijual secara layak. Semoga tips di atas bisa berguna bagi kita semua.

Sumber: Disunting dari Inco Harper, TBWA Indonesia

AddThis Social Bookmark Button


Actions

Information

15 responses

19 01 2008
Fika Tri Mujiani

Asslkm, OSH!
Lama tak berjumpa Pak!! kemana aja sih Pak???
Oh ya, selamat tahun baru Pak. Maaf telat banget.

Saya suka artikel “Manajemen Sebuah Proyek desain”-nya Pak. Bener-bener berguna. Baru-bru ini saya dapat order kecil-kecilan an saya dapat pembelajaran yang sangat amat berharga. Ternyata bener ya Pak, seorang desainer grafis itu memang harus siap untuk dapat tekanan. Apalagi kalo ngomong soal dead line. Wuuiiiih, pusing bgt. Belum lagi kalo di tengah jalan muncul masalah. Pokoknya tips2 yang Bapak kasih berguna bgt untuk saya kedepannya. Moga bisa saya realisasikan…

Saya mo tanya…Bagaimana sih seharusnya sikap seorang new comer dalam graphic design waktu terima order? Kalo yang saya liat, kebanyakan dari mereka cenderung rendah hati bahkan merasa rendah diri karena mereka belum jadi apa-apa. Padahal menurut saya sih PD aja lagi. Gimana cara menghadapi client yang pinter nawar (apalagi kalo dia tahu kalo kita bukan “siapa-siapa”?

Thx before nih Pak. Pak, lain kali kasih tips “cara menggaet pelanggan” ya! hehehe…

12 02 2008
Nur Aisyah Astuti

Assalamualaikum wr.wb

Di era globalisasi saat ini, dimana persaingan dunia kerja saling berkompetisi dalam kualitas dan keunggulan. Seorang Desainer Grafis hendaknya mempelajari dan mengetahui seluruh manajemen dari mulai negosiasi nilai dan harga suatu proyek, hubungan antara client dan desainer sampai proses finishing atau dalam istilah dunia percetakan disebut secara teknis dengan press, pre press, dan post press.

Seluruh proses dari aspek-aspek bagian manajemen dan teknis harus dikuasai oleh desainer grafis agar ketika menerima proyek tanpa kendala. Solusi-solusi dalam wacana ini, sangat menarik untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi para desainer grafis agar dapat bersaing lebih optimal dan menciptakan karya-karya yang lebih berkualitas untuk ke depannya serta memperkecil bahkan meniadakan tingkat distorsi dalam proses kerja perancangan.

Wassalamu akaikum Wr.Wb

13 02 2008
Kharis Utami

Memanejemen sebuah proyek itu bukanlah hal yang mudah namun terkadang kita sering mengabaikannya. Pada hal memanejemen sebuah proyek itu sangat besar manfaatnya, kita dapat mengerjakan tugas atau proyek tersebut dengan sistematis dan dapat menghasilkan sebuah pekerjaan yang maksimal.

13 02 2008
Endah Cendrakasih H

Manajemen dalam sebuah projek itu harus kita lakukan sebab dengan adanya itu projek yang kita kerjakan dapat tertata dengan baik dan dapat terbentuk secara sistematis.

13 02 2008
Dona Apriyani

Assalamualaikum wr. wb

Seperti yang telah disebutkan dalam artikel mengenai “Manajemen Sebuah Project Desain”. Seorang desainer grafis memang diharuskan membuat manajemen saat menerima proyek. Dengan planning yang matang, pengaturan yang benar, maksimalisasi fungsi dari team-team yang ada, pengarahan dan kepemimpinan dari sang leader guna tercapainya tujuan project, dan controlling terhadap project maka hasil yang diperoleh pun akan lebih maksimal. Dengan adanya manajemen, project dapat diselesaikan secara sistematis. Sehingga harga yang layak dapat kita peroleh sesuai dengan skill dan manajemen yang telah kita terapkan. Sehingga keprofesionalan dalam menjalankan tugas dapat terbayar dengan harga yang pantas.

Wassalamualaikum wr. wb

13 02 2008
Ilham

Manajemen sebuah project desain, saya rasa merupakan salah satu bagian penting dalam proyek desain. Dimana suatu proyek yang dikerjakan harus di-manage atau di atur sedemikian rupa agar desain tersebut dapat memiliki nilai jual di mata masyarakat. Dengan direncanakan matang-matang proyek suatu desain tersebut, tentunya akan memudahkan proses pembuatan proyek pekerjaan tersebut, serta mengurangi kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi selama berjalannya proses desain tersebut. Sudah tentu proyek desain yang direncanakan sebelumnya hasilnya akan lebih memuaskan dari pada hasil proyek desain tanpa perencanaan terlebih dahulu.

13 02 2008
Satria Fillah

Planning
Di mulai dari Time Planning, sebuah perusahaan desain/desainer harus bisa memprakirakan waktu yang akan digunakan untuk membuat sebuah desain dengan memperhatikan order-order yang lain yang menumpuk pada kita dengan maksud agar tidak terbengkalai order dari klien baru karena kita terlalu senang menerimanya dan memberikan “deathline”(baca:deadline) yang mepet dan juga kita memperhatikan berapa kira-kira level order yang telah diberikan, maksudnya kita juga bisa menentukan dan tau akan kemampuan kita untuk mengerjakan tugas dari klien itu butuh waktu berapa lama untuk menyelesaikannya.

Work Planning
Kita melakukan sebuah proses persetujuan bareng klient dengan sebaiknya dengan lembar persetujuan agar klient tidak semena-mena terhadap kita.

Financial Planning/Budgeting
Perlu ditambahkan dalam tahap ini adalah sebaiknya kita juga memperkirakan kerugian yang akan kita alami dengan mengurangi resiko, kita bisa membudget biaya termasuk ke dalam proses-proses yang tidak terlalu penting tetapi bagi pembentukan project itu adalah penting, maka, kita juga perlu membentuk daftar proses pembuatan desain yang akan kita jalankan agar kita tidak dianggap korupsi oleh klient dan berikan penjelasan juga kepada mereka, contoh nya seperti hal-hal tekhnis yang akan kita lakukan itupun termasuk biaya fee kita agar keuntungan juga kita dapatkan tidak hanya kepuasan pelanggan tetapi juga kepuasan desainer.

Organizing
Desainer secara total memegang peran, apalagi jika imajinasinya tidak bisa di ungkapkan untuk helper desainer, maka bekerja dengan organizing yang bagus harus dilakukan desainer dengan baik.

Stuffing
Jika ada hal-hal lain yang juga bisa dikerjakan oleh helper desainer lebih baik di manfaatkan agar kita sebagai desainer juga mamperhitungkan kondisi tenaga dll, maka desainer juga membutuhkan helper untuk hal yang membuang waktu bagi desainer.

Directing
Desainer membutuhkan semangat dengan memandang kepuasan klien kita agar kita bisa memiliki sponsor tidak langsung yang akan mempromosikan kerja kita yang baik kepada orang lain.

Controlling
Desainer yang tidak teliti membutuhkan teman yang teliti untuk melakukan pekerjaannya dengan kerjasama untuk mencari hasil yang terbaik jangan sampai klien tidak puas hanya karena masalah yang sepele. Itu saja pendapat tambahan dari saya mengenai artikel menajemen project desain, terimakasih.

“Kualitas hasil ditentukan kualitas usaha…”

13 02 2008
Rizkian Kurnia A

Menurut saya manajemen sebuah project desain itu sangat penting…
Karena dengan adanya manajemen dalam sebuah project desain sangat mempengaruhi pada desain yang akan di buat…dengan adanya manajemen project desain kita dapat mengetahui rancangan apa yang akan kita buat dalam membuat desain. Hal itu dimaksudkan agar tidak adanya kesalahan dalam membuat project desain dan supaya desain tersebut menghasilkan sesuatu yang sangat memuaskan.

14 02 2008
Febriana Friza

Seperti yang tertera pada artikel yang anda buat : Planning, Orginizing, Stuffing, Directing, Controlling itulah kunci dari sebuah manajemen sebuah project desain, agar kita bisa memanajemen suatu project yang akan dibuat dengan professional dan sempurna.

Oleh karena itu lima hal tersebut perlu diperhatikan. Hasil yang terbaik pasti akan memuaskan konsumen dan kita sebagai desainer juga akan puas dengan hasil kerja. Ilmu manajemen juga perlu dipertimbangkan untuk seorang desainer, karena dalam berbisnis kita perlu memperhitungkan segala sesuatunya, dari bahan, modal, dsb. Jadi walaupun project itu kecil atau besar, kita harus menyikapinya dengan professional.

14 02 2008
Hakim Indaruji

“Client datang kepada desainer dengan sebuah masalah. Sudah selayaknya kita desainer tidak lagi merepotkan mereka dengan ini-itu dan mampu menciptakan sebuah solusi yang tepat untuk permasalahan mereka”.

Mungkin pendapat ini perlu diketahui bagi para desainer, baik yang Beginner maupun yang Expert. Bahwa sebagai desainer, kita harus mempunyai jalan keluar bagi para client yang sedang bermasalah. Bukan menambah panjang masalah yang ada pada client…

Client kita anggap sebuah perusahaan, dan kita adalah karyawan yang bekerja di perusahaan itu. Sebagai karyawan yang ingin sukses, memberikan sebuah hasil kerja yang optimal, kita harus punya integritas dan pola kerja yang baik terhadap pekerjaan kita, agar mendapatkan kompensasi yang baik pula dari perusahaan.

Semuanya ada hubungan timbal balik. Tuhan menciptakan semua yang ada didunia ini berpasangan, siang-malam, hitam-putih, dan kita Desainer berpasangan dengan client. Agar tercipta sebuah hubungan mutualisme yang baik, penting bagi kita sebagai desainer mempelajari tiap Step dalam membentuk sistem manajemen yang baik…

Sukses untuk temen-temen desainer…

14 02 2008
Ansar Muhammad

Assallamualaikum…

Dalam menghadapi Era Pasar Bebas seperti sekarang menyita banyak perhatian masyarakat terhadap persaingan di dunia kerja, terutama Dunia Desain Grafis atau Komunikasi Visual. Lulusan desain grafis saat mendapat sebuah tantangan dalam mengahadapi era seperti ini harus bersaing dalam menciptakan sesuatu yang baru dan berusaha meningkatkan profesinalitasnya dalam bersaing.

Terimah kasih…

14 02 2008
Henry K. Siregar

Sebuah manajemen yang baik akan membuahkan hasil yang maksimal. Apa lagi, dalam dunia kerja desain. Manajemen berperan besar dalam menentukan hasil akhir dari sebuah pekerjaan. Memang sulit, namun harus diterapkan demi kelancaran semua pihak. Salut untuk para pekerja dibidang desain yang telah menerapkan sistem manajemen yang baik.

14 02 2008
Rian Dwi Antoro

Asalamu`alaikum Wr Wb

Setelah saya membaca artikel yang anda tulis, saya baru mengerti bahwa dalam dunia kerja Desain Grafis, Kita harus mempunyai sistem manajemen kerja yang baik agar kita dapat bekerja secara profesional. Sebelum saya membaca artikel yang anda tulis, saya memiliki pemahaman bahwa dalam dunia kerja Desain Grafis, kita sebagai seorang desainer hanya dituntut oleh client untuk membuat CI nya saja. Sehingga kita dapat mengerjakan perkerjaan itu sendiri tanpa bantuan orang lain. Ternyata, dalam dunia kerja Desain Grafis kita juga harus mempunyai tim yang solid, agar saat mendapat proyek dari client kita tidak kesulitan saat menyelesaikan proyek dari client tersebut.

Terima Kasih….. Wasalamu`alaikum Wr Wb

14 02 2008
Fika Trimujiani

Pada dasarnya desainer grafis memang merupakan subjek pemecah masalah. Selain dituntut menguasai dan terampil dalam ilmu desain, mereka juga dituntut cerdas dalam menyikapi masalah yang datang dari client-nya. Ia juga harus mampu menerjemahkan kemauan dan ide awal dari client agar desain yang nantinya dibuat dapat dieksekusi dengan baik oleh pihak yang bertugas mencetak sehingga mampu mengurangi terjadinya distorsi dan mampu menjadi media komunikasi yang baik serta dapat dipahami oleh publik yang menjadi sasaran.

Ilmu manajemen merupakan salah satu ilmu yang mampu mengkomplementari sebuah kerja desain. Saat ini memang jarang desainer grafis yang bertindak sebagai single fighter.Kebanyakan bekerja secara kolektif dan berantai selayaknya kerja sebuah organisasi. Ketatnya persaingan saat ini memaksa sebuah tim desain untuk tanggap dalam menyikapi dan membidik kemauan pasar.

Menurut saya artikel ini sangat menarik. Selain syarat informasi, artikel ini juga telah membuka mata dan pikiran saya. Saya ingin menggarisbawahi bagian tentang time planning. Jika dihubungkan dengan budaya masyarakat Indonesia yang ada dewasa ini, bayak sekaliorang yang mengklaim bahwa salah satu budaya yang menonjol dari bangsa kita adalah terlambat. Saya ingin sekali para desainer grafis khususnya the next graphic designer mampu membuktikan bahwa kita mampu bekerja on-time. Jangan pernah main-main dengan waktu karena seorang desainer grafis tidak boleh mengecewakan client dan jangan sampai client kabur hanya karena kita tidak mampu bekerja tepat waktu.

Bravo for all graphic designer!!!!
Terima kasih

14 02 2008
M Maula Nurudin A

Wah…Bagus sekali artikelnya.

Saya jadi tahu mekanisme dalam sebuah group desain.

Menurut saya tentang masalah ini bisa dikaitkan juga dengan masalah tentang idealis dan realistis. Maksudnya, dua hal yang bertolak belakang… saling berlawanan.

Biasanya kalo belum dikejar kebutuhan kita semua pada mengedepankan idealisme… idealis terhadap karya yang kita jual, misal kita jual karya itu mahal banget! Karena seninya tinggi, tapi apa dikata, orang awam gak ngerti seninya…akhirnya nggak laku-laku dan kita tetap keukeuh membandrol dengan harga segitu mahalnya, nah itu namanya Idealis, apa yang kita anggap benar dan kita mempertahankannya. Ya karena itu tadi, belum dikejar kebutuhan…laku ya seneng, enggak ya nggak apa-apa…dan akhirnya pun nggak laku Very Happy!

Tapi, kalo kita dikejar kebutuhan, karya dijual untuk beli ‘gorengan’ aja bakal kita relakan dengan harga yang murah.

Berhasil menjual karya seni idealis adalah cita-cita yang mulia, patut dijunjung tinggi, tapi menurut saya itu seharusnya menjadi nomor dua. Kita punya kebutuhan yang harus dipenuhi, apalagi nanti kalo udah punya anak istri (apalagi yang punya simpenan, tambah kerja keras tuh).

Nah, dari segi melihat idealis dan realistis inilah banyak desainer terperangkap karena waktu dia jadi idealis nggak dapat duit, waktu dia realistis malah jual diri kemurahan…itu karena mereka belum baca artikel ini, maksudnya belum baca tentang 1. Planning, 2. Orginizing, dll…dll yang ada di atas, ini ilmu yang sangat berharga agar kita professinal dalam bekerja.

“Jual diri”, layani publik, penuhi apa yang mereka inginkan, buka studio atau freelance, ikuti sistem (seperti yang dibahas artikel ini) yang sudah teruji. Nah baru kalo kebutuhan kita sudah “aman”, idealislah…Puaskan batin kita!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: