Animasi dari Tangan Suyadi

5 01 2008

Pak Suyadi“Tak ada seorang wanita pun yang mau jadi istri saya,” kata seorang lelaki berusia 48 tahun. Karena itu, katanya, hingga sekarang ia tetap membujang. Ia dilahirkan di Puger, sebelah selatan Jember. Sejumlah rambut di kepalanya sudah memutih.

Namanya Suyadi. Lulusan Seni Rupa ITB tahun 1960. Kini ia termasuk salah satu animator yang masih sangat langka di Indonesia.

Animator adalah penggambar untuk film animasi. Jenis film ini berbeda dengan film biasa. karena obyeknya bukan dipotret, tapi digambar. Pada tahap pertama setiap gerak dari seluruh rangkaian cerita digambar oleh animator di atas kertas-kertas gambar biasa. Kemudian gambar-gambar tadi dipindahkan ke seluloid.

Pada tahap kedua, hanya garis tepi gambar saja yang dipindahkan. Bidang kosong pada gambar diisi warna. Kemudian diberi latar belakang. Setelah itu baru dipotret.

Banyak sekali gambar diperlukan. Untuk satu detik gerakan gambar dalam film, diperlukan 24 buah gambar (frame). “Bayangkan berapa gambar diperlukan untuk masa putar 5 menit,” kata Suyadi. Karena itu untuk film dengan masa putar satu detik saja diperlukan waktu sekitar sebulan untuk menggarapnya.

“Jadi ini memang kerja kolektip,” kata Suyadi lebih lanjut. Karena itu ia juga memakai beberapa pembantu, misalnya untuk mewarnai, memindahkan ke celuloid. Tapi dalam animasi modern, untuk satu detik cukup 12 gambar – karena setiap gambar diulang sekali. Tapi hasilnya tidak akan sehalus bila dengan 24 gambar.

Suyadi menjadi animator penuh sejak 1974. Sebelumnya ia pernah terlibat sebagai art director untuk 5 buah film (Lampu Merah, 1969; Pemburu Mayat, 1970; Kabut di Kintamani, 1971; Cobra, 1977). Tapi karir tersebut tidak dilanjutkannya. “Pekerjaan itu juga menuntut kreativitas, tapi saya kurang sreg. Karena saya juga harus memperhatikan kostum dan make-up pemain. Padahal saya ini kan tukang gambar,” katanya. “Jadi, jadi animator inilah sesungguhnya profesi saya.”

la menggambar sejak masih mahasiswa dengan membuat ilustrasi cerita anak-anak. Buku anak-anak yang sempat digarapnya antara lain Joko Kendil, Made dan 4 Teman, Istana di Bukit Karang, Kisah Fantasi H.C. Anderssen (6 jilid), Gua Terlarang, Iwan Jalan kaki ke Sekolah dan Kebakaran di Gang Sembrono. Semua buku tersebut diterbitkan PT Djambatan.

Ilustrasi buku Gua Terlarang kemudian dinilai sebagai ilustrasi terbaik untuk buku anak-anak pada Tahun Buku Internasional 1972. Sedangkan buku Made dan 4 Temannya, oleh IKAPI dinilai sebagai buku yang terbaik dari segi perwajahan untuk 1979.

Di samping membuat ilustrasi, Suyadi juga mengarang cerita. Sudah 2 buku yang dikarangnya sendiri: Pedagang Pici Kecurian dan Seribu Kucing Untuk Kakak. Keduanya juga diterbitkan Penerbit Djambatan.

Berapa besar penghasilannya sebagai ilustrator? Menurut Suyadi imbalannya didapat dengan sistem royalty – biasanya 10% dari harga buku. Buku anak-anak umumnya dicetak hanya 5 ribu eksemplar dengan harga paling mahal Rp 350 per buah. “Jadi hasilnya, yah, . . . tidak seberapa, ” kata bujang tua itu dengan tenang. Tetapi kalau salah satu buku ketiban Inpres misalnya, berarti ia dapat rezeki besar. Seperti bukunya yang berjudul Gua Terlarang. “Untuk buku itu saya dapat sekitar Rp 200 ribu,” ujarnya – karena dicetak sampai 22.000 eksemplar.

Dengan sederhana diakuinya bahwa ia bukan orang yang mempersetan kepentingan publik dengan dalih mempertahankan nilai seni. Karena itu, misalnya, setiap kali selesai menggambar kalau merasa ragu, ia tak segan-segan menunjukkan hasilnya kepada anak tetangga. “Seandainya anak itu menganggap gambar itu orang lagi sedih, padahal yang saya maksudkan orang lagi ngelamun, maka gambar itu akan saya ganti,” katanya. “Jadi saya ini bukan seperti seniman besar, yang tidak mempersoalkan konsumen mengerti atau tidak.”

Suyadi dan Anak-anak

Suyadi sebagai Pak Raden dan anak-anak

KB & Pemilu

llustrasi yang dibuatnya kebanyakan ditujukan pada anak-anak yang berpendidikan SD. Untuk mendapatkan hasil yang kira-kira akan dapat dinikmati oleh rata-rata mereka, ia juga sering memilih anak yang kecerdasannya sedang untuk menguji gambarnya. “Kalau anak itu tidak bisa mengerti cerita hanya dengan melihat gambar, itu artinya saya gagal,” tambah Suyadi.

Antara tahun 1961-1964, Suyadi dapat kesempatan belajar di 2 studio di Prancis, yaitu di Les Cineastes Associes khusus mempelajari iklan, dan di Les Films Martin-Boschet selama 3 tahun. Pengalamannya di Prancis itu tentu saja amat berguna, karena ia juga kemudian sempat membuat film animasi untuk iklan. Di antaranya iklan obat jerawat. Dari iklan yang hanya 25 detik itu ia dapat Rp 350 ribu untuk 15 detik pertama. Kemudian Rp 150 ribu untuk tiap 10 detik berikutnya. “Ongkos prosesing, sewa studio dan lain-lainnya ditanggung pemesan,” katanya dengan sedlklt bangga.

Dari segi penghasilan menjadi animator memang lebih basah dari ilustrator. Barangkali ini sebagian alasan sehingga kemudian Suyadi memantapkan diri sebagai animator. Sampai sekarang ia sudah menghasilkan beberapa buah film. Antara lain Yang Banyak Jangan Anak sebuah film tentang KB – dan Menantang Alam – film tentang banjir. Kedua film tersebut disponsori Departemen Penerangan.

Pada 1977, ia juga mengerjakan 5 buah film yang disponsori Lembaga Pemilihan Umum. Tiga film kartun, sebuah film boneka dan satu film wayang kulit. “Kelimanya bercerita tentang apa-apa yang perlu diperhatikan sewaktu pemilu,” katanya. Semuanya kemudian disiarkan TVRI dalam minggu tenang. Untuk masing-masing film ia dapat setengah juta. “Pokoknya bisa hidup layak. Yang sulit kalau lagi tidak ada proyek,” kata lelaki itu menceritakan pekerjaannya.

Baginya untuk menjadi animator yang baik, harus lebih dulu menjadi ilustrator yang baik. Perbedaannya hanya kalau ilustrator hanya membuat sebuah gambar yang statis namun dapat menggambarkan seluruh cerita, animator harus membuat banyak gambar mencakup semua gerak secara terperinci. “Tapi keduanya bercerita dan menggambar.” ujarnya.

Animator kita ini punya sederetan kesenangan. Pertama-tama ia cinta anak-anak. Doyan nonton film kartun. Setiap pukul 5.15 ia pasti duduk di depan pesawat tv menyaksikan film kartun untuk anak-anak. Ia juga suka mendalang. Binatang favoritnya adalah kucing.

Pada suatu hari ketika masih mengerjakan animasi untuk film Pemilu ia sempat digoda binatang kesayangannya itu. Waktu itu segalanya sudah mepet, meskipun semua gambar sudah diwarnai. Kemudian seluloid dijejerkan satu per satu supaya cepat kering. Suyadi kemudian istirahat, tidur.

“Paginya ketika bangun, gambar sudah penuh dengan telapak kucing,” katanya sambil tertawa, “Ya saya tidak bisa marah sebab itu binatang kesayangan saya. Saya hanya bisa marah kepada diri sendiri mengapa tidak punya tempat yang bisa dikunci.” Akibatnya seluruh proses pembuatan gambar harus diulang dari awal.

Kali lain, seluloid yang sudah dikeringkan dalam rumah, basah kembali karena hujan. “Ya saya marah lagi pada diri sendiri, kenapa tidak menyewa rumah yang tidak bocor,” kata bujangan itu sambil tersenyum. Apakah ini berarti hidup seorang animator masih rawan? Sebetulnya kalau lagi ada proyek, lumayan hasilnya,” jawab Suyadi terus-terang.

Untuk mendapat obyekan secara kontinyu, ia pernah pasang iklan, tapi ternyata tidak ada yang datang. Sekarang ia tetap bekerja berdasarkan informasi kawan-kawannya saja.

Kini Suyadi sedang menggarap film boneka untuk serial tv. Judulnya Si Unyil, bekerjasama dengan PFN. Diperkirakan akan disiarkan tahun depan, sekali seminggu untuk 10 menit. Seluruh biaya hanya Rp 4 juta. Ia tak mau menjelaskan berapa bagiannya. “Jangan ah, filmnya belum selesai,” kilahnya. “Tukang gambar adalah koki – yang perlu itu bukan orangnya, tapi masakannya.

Sumber: Majalah “Tempo” No. 32 Thn. X 4 Oktober 1980, hal. 28-29

AddThis Social Bookmark Button


Actions

Information

12 responses

11 02 2008
Annurfal Septiandi

Assalammualaikum wr.wb.

Hahahahahaha…..
Mungkin kata itulah yang pertama kali saya ucapkan ketika selesai membaca artikel tentang pak suyadi ini…maaf. Memang sebagai seorang animator yang belakangan ini dipandang sebelah mata oleh orang awam, sangat memerlukan kesabaran yang sangat ekstra untuk terus bergelut di bidang ini…

Animator, memang masih sangat langka di Indonesia khususnya bila dibandingkan dengan orang-orang yang mengatakan membela rakyat dengan mengaku politikus….,kembali ke topik!…Profesi animator yang dijalani oleh Pak Suyadi ini sangat menyentuh, bagaimana kita lihat dia berjuang sendiri untuk hidup dan kegemerannya yaitu menggambar…

Menurut saya bagi orang yang ingin menjadi seorang animator sudah sepatutnya dia mengidolakan dan mencontoh kesabaran da ketekunan Pak Suyadi ini, karena beliau telah berhasil mendapatkan kembali semua hasil kerja kerasnya, dia banya disukai oleh banyak orang, meskipun kata dia bahwa animator itu sama seperti koki, tidak penting orangnya yang penting adalah masakannya…

Saya sangat bangga pada Pak Suyadi ini, mugkin bila Pak Ages tidak menampilkan artikel Pak Suyadi ini, mungkin saya akan salah pandang tentang profesi animator ini…terima kasih banyak ya Pak!

Bagi kita masyarakat umum, mulai sekarang kita memang perlu membuka hati dan mata untuk bisa lebih menghargai seorang animator…karena tanpanya, dunia komunikasi visual, pertelevisian khususnya juga animasi akan menjadi sangat hambar hanya hitam dan putih…

Wassalammualaikum wr.wb.

13 02 2008
Marisi Octaviana

Saya kira tidak ada lagi animator- animator di Indonesia. Saya salut dengan Pak Suyadi yang mampu mempertahankan ciri khas dalam animasinya dan tidak ikut-ikutan dengan pasar animasi yang sedang meningkat saat ini. Tapi masyarakat lokal jarang yang menghargai animasi Indonesia karena mereka menganggap mutu animasi indonesia “rendah”. Masyarakat lebih memilih animasi internasional daripada lokal, sangat disayangkan.

Saya juga mengetahui animator-animator indonesia lebih memilih bekerja di luar negeri daripada negaranya sendiri. Apabila kita melihat ke belakang memang animasi indonesia sedikit tertinggal dari negara-negara lain. Mungkin hal ini juga diakibatkan oleh kurangnya promosi animasi lokal. Jadi saran saya bagi para animator indonesia tingkatkan animasi lokal karena dengan itu masyarakat luas dapat menghargai dan mengetahui animasi lokal.

14 02 2008
Benazir Nurazizah

Berkat artikel ini saya mengetahui siapa orang dibalik layar Si Unyil…Salut buat Pak Suyadi!

Tetep setia sama profesinya biarpun penghasilan yang didapatnya mungkin sangat jauh lebih kecil dari penghasilan profesi lain…saat ini indonesia butuh regenerasi dari Pak Suyadi. Kalau pada artikel yang dibuat pada tahun 1980 diatas harga komik yang dibuat oleh pak Suyadi hanya sekitar Rp 350, hanya sekedar info kemarin saya mengunjung sebuah “bookstore” yang masih berada di dalam lingkungan UI. Saya menemukan sebuah komik Indonesia (memang bukan komik mengenai budaya melainkan lebih mengenai komik tentang kritik sosial). Komik ini berharga cukup mahal yaitu Rp 33.000, dan sangat cepat terjual….(masih ada harga komik indonesia yang lebih mahal lagi lho).

Dilihat dari perkembangan harga sudah dapat dikatakan bahwa kehidupan para komikus saat ini dapat dikatakan lebih baik dari era 80an Pak Suyadi. Hal itu menandakan bahwa saat ini perkembangan komik Indonesia sudah mulai berkembang meskipun komik-komik luar masih tetap merajalela. Keinginan para pecinta komik Indonesia pun untuk mencari generasi komikus yang dapat menyaingi komikus luar sudah mulai dilakukan hal ini terlihat dari mulai bermunculan festival-festival pembuatan komik ataupun animasi seperti “hellofest” yang diadakan setiap tahun.
jadi…ayo bikin komik dan animasi Indonesia!

Sudah banyak yang mulai bosan dengan manga dan anime…

14 02 2008
Elisabet S.H.P

Pak Suyadi sebagai seorang animator, dia mampu menjalani profesinya dan kehidupannya dengan baik, yang walaupun ia hidup tanpa seorang istri yang mendampingi hidupnya, ia tetap semangat dan pantang menyerah.

Animasi yang Pak Suyadi buat merupakan suatu gambaran tentang kehidupan masyarakat indonesia. Dia tetap setia pada hal yang menjadi dasar bagi dalam membuat animasi. Banyak hal yang dirasakan sebagai animator yang tinggal di negara indonesia. Kadang kala animasi yang dibuat tidak dihiraukan orang lain, sehingga harus membuat iklan dan harus bekerja keras membuat suatu karya yang lebih baik lagi.

Sebagai seorang yang telah membaca artikel ini saya merasa bahwa kehidupan seorang seniman penuh dengan tantangan dan pergumulan hidup yang harus dijalani. Bekerja keras dan terus berusaha tanpa adanya rasa putus asa membuat seorang yang berprofesi sebagai seniman mampu bertahan menjalani kehidupannya di dunia yang penuh dengan persaingan. Namun kalau memang kita punya skill di satu bidang mari kita kembangkan dan terus berkarya agar kita mampu menjalani kehidupan sama seperti pak suyadi yang tetap bertahan dan terus berkarya.

Terima kasih………

14 02 2008
Habibah Amalia

Assalamu’alaikum……

Ya….dari sini kita bisa banyak belajar dari tokoh Suyadi,salah satunya ialah “bahwa ia bukan orang yang mempersetan kepentingan publik dengan dalih mempertahankan nilai seni”,karena seperti yang kita tahu….sekarang ini banyak para seniman yang hanya mementingkan kepuasan mereka semata dengan me-masabodoh-kan kepentingan publik.

ya,,,sekali lagi kita hanya bisa berharap agar seniman-seniman lain dapat lebih belajar dari tokoh Suyadi tersebut…..

Semoga……..

14 02 2008
Fika Trimujiani

Saya sangat bangga setelah membaca artikel ini. Open minded, inspiring dan menumbuhkan unlimited spirit.

Jika menurut beliau animotar sama seperti koki, menurut hemat saya animator merupakan seorang dalang wayang. Kenapa? Karena ia adalah lakon penting yang nantinya merupakan penentu kisah yang akan dimainkan.apakah kisah itu sesuai dengan para pendengarnya. apakah kisah itu mampu memberikan masukan positif untuk para penikmatnya dan apakah kisah itu mampu mengkomunikasikan pesan yang ingin disampaikan.

Terima kasih untuk artikel ini. Mudah-mudahan kita dapat mencontoh kesabaran dan ketekunan beliau dan nantinya kita mampu menyerukan pada dunia bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia yang kreatif dan berkompeten.

Zestfull for all!!

14 02 2008
Nandayani

Hmmmmmm
Sungguh menakjubkan ya seorang Suyadi ini.
Dia dapat menghasilkan karya-karya yang dapat dimengerti oleh semua kalangan meskipun karyanya ditujukan untuk anak-anak.dia seorang ilustrator sekaligus animator yang lebih mementingkan kualitas karyanya dibanding royalti yang iya dapat.
dia adalah seorang ilustrator sekaligus animator yang dapat dijadikan contoh untuk generasi saat ini.
dia seorang yang sabar dan tekun dalam mengerjakan setiap karya-karyanya.
Semoga ilustrator dan animator saat ini dapat menghasilkan karya-karya yang berkualitas dan tidak hanya mementingkan royalti seperti yang dilakukan pak Suyadi yang lebih mementingkan kualitas karyanya.
Semoga saya dapat mencontoh beliau dalam berkreasi.

14 02 2008
Khoerunnisa

Pak Suyadi merupakan salah satu dari sekian banyak animator yang ada di Indonesia, yang bisa dibilang banyak orang awam yang mengenalnya. Hari-harinya diisi dengan membuat animasi-animasi baginya hampir sama dengan ilustrator yang membuat karyanya yang bersifat statis. Pak Suyadi berusaha membuat animasinya menjadi hidup dengan menampilkan karya-karyanya yang masih menampilkan etnis kebudayaan di Indonesia yang bernilai tinggi. Walaupun sekarang ini banyak animator-animator yang menampilkan budaya modern di setiap tampilannya.
Namun saya salut pada Pak Suyadi yang tetap mempertahankan gaya dari kebudayaan dalam membuat animasinya dan apa yang beliau ingin sampaikan lewat animasinya tersebut. Walaupun hasil yang didapatkan tidak sebanding dengan apa yang beliau hasilkan. Namun bagi beliau, mempertahankan nilai seni dari animasi itu penting.
Saya sangat salut pada Pak Suyadi yang tetap mempertahankan karya-karyanya. Dan semoga apa yang dilakukan Pak Suyadi dapat kita jadikan panutan untuk selalu berkarya lebih baik lagi.

14 02 2008
Firdaus Muttaqien

Asslammualaikum

Hebat skali orang itu ya!!! dia adalah satu-satunya animator Indonesia yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budayanya sendiri, jarang lho orang seperti dia yang bisa istiqomah tetap pada budaya indonesianya. banyak kita lihat animator-animator Indonesia yang melupakan budayanya sendiri yang mana mereka lebih condong pada budaya luar misalnya manga ataupun karakter komik-komik Jepang…

14 02 2008
Kiki Ari Sandi

Assalamualaikum Wr.Wb

Ga nyangka masih ada orang seperti ini di Indonesia, soalnya jarang banget ada animator yang hebat dan rendah hati seperti Pak Suyadi. Selain itu sudah banyak karya-karyanya yang terjun di masyarakat dan juga sangat menonjolkan budaya Indonesia, selain itu karyanya juga sampai mendapat rangking terbaik buku Internasional. Pak Suyadi juga memiliki prestasi yang sangat memuaskan

Sehingga dapat berkuliah di Prancis dan belajar tentang periklanan. Saya sebagai desain grafis “ecek-ecek” ingin sekali bertemu dan bertanya-tanya tentang dunia animasi,kalo boleh minta no teleponnya Pak Suyadi agar saya dapat mencari informasi dan belajar lebih dalam. Jangan-jangan Pak Suyadi temannya Pak Ages ya? Salut deh buat Pak Suyadi dan cepat-cepat dapat pendamping hidup deh…he…he…

Wassalamualaikum Wr.Wb

14 02 2008
Rafli Pramudi

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Hebat euy!!! mantap pisan…dijaman modern kayak gini apa lagi di Indonesia, ada orang seperti Pak Suyadi, dia animator yang mengangkat tema tentang budayanya sendiri. Karena dijaman kayak gini khan jarang orang-orang kayak Pak Suyadi.. karena banyak yang tidak mau mengenalkan budayanya sendiri kepada yang laen, malah menyimpang…lebih kebudaya luar. Coba pemerintah lebih membudayakan kebudayaanya sendiri. Padahal ada seorang yang menjunjung budayanya sendiri tapi malah tidak diperhatikan…duh kan sayang banget tuch…dan saya sangat amat salut kepada Pak Suyadi…karena dia cinta kepada budayanya sendiri…

Terima kasih…dengan wacana ini, wawasan saya jadi bertambah…

Wassalam…

14 02 2008
Muhammad Ilham Yasir

Pak Suyadi sangat mengangumkan, karena dari tanganya itu dia dapat menghasilkan karya yang sangat menakjubkan. Dia dapat mengenalkan kebudayaanya sendiri kepada yang lain juga survive dengan kebudayaanya sendiri…maju teruz Indonesia mudah-mudahan dunia animasi dapat teruz berkembang dan bisa mempertahankan keaslian budaya kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: