20 Pertanyaan Klien untuk Desainer Grafis

2 02 2009

Contract500

Sebagai desainer, bersiaplah dengan pertanyaan standar yang akan selalu muncul dalam benak klien. Tidak perlu gusar, hal itu adalah sesuatu yang wajar. Anda hanya perlu mengetahui dan menerima pertanyaan-pertanyaan itu sebagai sebuah cara dalam menghargai keputusan klien ketika memilih untuk mempercayai anda sebagai desainernya, anggap saja itu adalah sebuah impresi pertama dari klien terhadap anda dan berbuah ‘nilai’ yang akan anda dimiliki untuk sebuah reputasi. Inilah 20 pertanyaan yang perlu disikapi dengan benar oleh seorang desainer:

1. Bersediakah menceritakan sedikit tentang diri anda?

First time, mau tidak mau anda harus melakukan hal ini, sebab klien tidak tahu siapa anda, sekalipun anda berasal dapur biro iklan ternama. Pertanyaan semacam ini merupakan sesuatu yang praktis namun spesial, biasanya anda akan melakukan dimenit-menit awal bertemu klien. Bahkan terkadang muncul pertanyaan yang tidak relevan, seperti “Mengapa anda menggunakan ‘piercing’ pada hidung?” atau “Tattoo-mu bagus sekali, bikin dimana?. Jangan anggap hal ini konyol dan tidak penting, jawablah dengan jujur dan tidak perlu bersikap “sok desainer”, sebab disaat ini orang lain sedang ‘berhitung’ tentang diri anda.

2. Berapa lama anda menjadi desainer?

Faktor pengalaman kerja pastinya akan menjadi suatu hal yang penting. Klien, hingga saat ini masih percaya pada dalil “ Semakin banyak pengalaman–semakin bagus desain yang dihasilkan”. Solusinya adalah dengan menunjukan Curicullum Vitae yang anda miliki, siapa tau anda pernah jadi “kutu loncat” dari beberapa agency.

3. Apakah anda memiliki kantor atau bekerja secara home-base?

Di Indonesia menjadi orang “kantoran” jauh lebih bergengsi daripada freelancer. Desainer grafis akan lebih bangga menunjukan kartu nama corporate daripada kartu nama pribadi. Tapi percayalah, bagi para desainer freelance yang tidak berkantor, andapun bisa menunjukan kemampuan anda tanpa harus pamer tempat kerja anda. Syaratnya sangat mudah, cantumkan dalam kartu nama anda bahwa anda memiliki tempat kerja berbasis rumahan alias home-base.

4. Berapa orang yang bekerja diperusahaan anda?

Agak aneh memang, apabila kita mendengar jargon “semakin banyak karyawan sebuah perusahaan maka semakin hebat produknya”. Klien dapat dipastikan menanyakan hal itu. Jawablah dengan tenang berapa jumlah team anda, ceritakan siapa saja team anda jika jumlahnya masih mungkin untuk diceritakan, beri alasan dengan jujur dan rasional kenapa anda harus memilih jumlah anggota yang sedikit atau banyak didalam team anda.

5. Apakah spesialisasi yang anda punya?

Mengakui keunggulan diri sendiri tentunya akan berakibat dua hal, anda akan dipercaya sepenuhnya atau anda akan dipertanyakan. Saat ini performa presentasi anda yang akan menentukan apakah anda layak dipercaya. Presentasikan kapasitas anda se-normal mungkin tanpa harus melebih-lebihkan. Beri penjelasan mengapa anda sangat spesial dibidang tersebut dan berapa lama anda menekuni spesialisasi anda.

6. Apakah sebelumnya anda memiliki pengalaman proyek kerja sejenis?

Be honest!…jika belum, namun katakan bila anda pernah melakukan pekerjaan yang serupa tapi tak sama.

7. Berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh saya untuk desain anda?

Jangan sekali-kali memberikan sejumlah angka dalam bentuk asumsi. Berikan semuanya dalam draft atau proposal yang jelas, detail dan jumlah angka yang rasional. Tawar menawar pasti akan terjadi tapi tempuhlah itu sebagai sebuah kewajaran termasuk apabila klien anda menawar dengan harga yang sangat tidak wajar.

8. Dapatkah anda memberi potongan harga pada saya?

Hati-hati dengan klien yang memiliki tipe pertanyaan semacam ini, sebab anda akan dilihat secara cermat. Jawab pertanyaan itu dengan bijak, jika memang discount bukan merupakan hal yang tabu bagi anda maka berilah discount tersebut. Jika tidak, katakan maaf dan anda bisa menyebutkan bahwa nilai proyek cukup negotiable.

9. Bagaimana cara anda menerima pembayaran hasil kerja?

Jelaskan kepada klien prosedurnya secara rinci, sebaiknya gunakan satu nomer rekening baik milik corporate maupun pribadi.

10. Berapa lama proyek desain ini mampu anda selesaikan?

Saya biasanya memperkirakan waktu secara over-estimate. Jika saya bisa menuntaskan semua desain lebih cepat dari deadline, I’m a hero.

11. Siapa saja yang akan terlibat dengan pekerjaan anda dan siapa sebenarnya yang akan men-desain proyek?

Sebutkan dan kenalkan team anda walau tanpa harus menghadirkan semuanya didepan klien. Perjelas posisi anda dalam team sehingga klien dapat memahaminya.

12. Apa saja yang menjadi bagian dari proyek ini?

Gambarkan ruang lingkup kerja, proses, output serta distribusi kerja secara efektif tidak lupa tools dan property yang dapat membantu proses desain.

13. Apa yang harus saya sediakan?

Brief dari klien adalah modal dasar anda mendesain, jika anda memerlukan lebih dari itu silahkan katakan namun jangan berlebihan.

14. Bagaimana jika saya tidak puas dengan desain anda?

Have an answer for this. “Kami yakin Anda akan puas dengan desain kami! “Optimis tetap perlu, tetapi lebih baik anda memiliki rencana jika terjadi sesuatu yang sekiranya tidak menguntungkan.

15. Apakah anda memiliki referensi?

Itu harus, desainer tanpa referensi tentunya aneh.

16. Bisakah anda berikan beberapa contoh desain untuk saya?

Portofolio! Anda jarus tunjukan itu, deskripsikan dengan baik namun jangan menggurui klien anda.

17. Siapakah pemilik desain tersebut manakala selesai dibayar?

Semuanya tentu sudah ada didalam kontrak kerja dan anda tentu paham saat membuatnya.

18. Apa yang terjadi jika Anda keluar dari kontrak bisnis?

Hal ini lebih relevan bila proyek anda membuat web design  misalnya, karena seringkali akan ditanyakan siapakah yang akan melakukan maintenance website? Kalau untuk produk desain cetak/print sebetulnya akan lebih aman karena waktunya yang terbatas.

19. Mengapa saya harus menggunakan anda dalam pekerjaan ini?

Practice this one, too. Ini sangat sulit untuk dijawab, cuma ada dua cara: percaya pada diri sendiri atau kepura-puraan. Persoalan meyakinkan orang memang tidaklah mudah.

20. Tolong tunjukkan beberapa contoh ide Anda untuk proyek ini sehingga saya bisa merasakan anda bekerja?

Saya beri sedikit masukan apabila klien menanyakan hal tersebut. Jawaban saya adalah selalu berkata: TIDAK!. Sebelum kontrak ditanda-tangani, apalagi kalau kontrak kerja anda  dalam jangka pendek: DON’T DO IT!. Anda harus mampu mengarahkan klien potensial kepada portofolio anda untuk dapat merasakan jenis dan kualitas pekerjaan yang anda lakukan. Jika anda merasa memiliki portofolio yang tipis, tawarkan saja pekerjaan yang memang ada didalamnya atau mengolah lagi potongan-potongan portofolio anda sehingga lebih detail.

AddThis Social Bookmark Button





Blueberry Splash

15 06 2008

Blueberry Splash by Jacko

Perhatikan! Bagaimana blueberry tertangkap oleh kamera pada saat jatuh ke dalam cream dan muncul kembali. Inilah cara kerjanya diuraikan dalam Step By Step Blueberry Splash.


AddThis Social Bookmark Button





Membuat Video

20 01 2008

Samsung Camcorder VP-DC565WI

Sering melihat video karya orang lain yang dipublikasikan di Internet ataupun disharing antar perangkat pemutar video digital portabel? Ternyata, membuatnya tak sesulit bayangan Anda. Asalkan tahu cara membuatnya dan dengan alat yang tepat.

Pertama Anda memerlukan file video digital yang bisa direkam dengan menggunakan kamera video digital seperti Samsung Camcorder VP-DC565WI dan juga sebuah software penyunting video. Kamera video digital ini dilengkapi dengan CCD 1,3 Mpx DSP7. Mampu menangkap gambar diam dengan resolusi efektif 1,2 MP pada resolusi hingga 1280×960 dan 1600×1200 pada moda interpolasi. Fungsi videonya mampu merekam gambar hingga resolusi 720×480 (NTSC) dan 720×576 (PAL) pada 30fps dengan kemampuan kompresi codec MPEG4.

Camcorder VP-DC565WI mampu merekam video hingga 1 jam dengan menggunakan DVD+R dual layer. Selain itu masih dilengkapi juga dengan 4 in 1 multi memory card slot, yang bisa mendukung memori MS, MS PRO, SD dan MMC, sehingga Anda bisa lebih leluasa merekam video pada media yang Anda inginkan. Teknologi Variable Bit Rate Recording (VBR) memungkinkan Anda mengubah bit rate sesuai kecepatan gerak subjek dan merekam secara lebih efisien pada kapasitas DVD yang terbatas.

Agar hasil pengambilan gambar sesuai untuk format video yang bisa dipublikasikan secara online, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika merekam gambar, yaitu:

Dekati objek
Untuk mendapatkan hasil yang bagus, hindari mengambil gambar dari jarak yang terlalu jauh dan memiliki banyak detail. Hal ini karena video Anda memang diperuntukkan untuk perangkat pemutar video portabel dengan layar yang kecil, sekitar 2-3 inci saja, sehingga perlu fokus pada shot-shot close up. Sebaiknya juga tidak menggunakan moda shooting layar lebar 16:9; karena akan menghasilkan garis hitam di atas dan di bawah gambar, yang akan semakin membuat detail gambar tampak kecil. Gunakan moda standar 4:3.

Berpikir kecil
Jika Anda Ingin menambahkan judul atau keterangan lain dalam bentuk teks dalam video, pertimbangkan untuk memilih variasi ukuran teks yang sesuai, agar tak tampak terlalu kecil dan jadi tak terbaca. Bila tak memiliki peranti lunak khusus untuk transisi gambar dan efek, dan tak ingin menggunakan efek-efek transisi, Anda bisa menggunakan software pengolah gambar biasa, seperti Adobe Photoshop. Buatlah dokumen berukuran 200×200 piksel, desain teks dan mengimportnya ke program penyunting video.

Jaga agar tetap pendek
Durasi film sebaiknya tak terlalu panjang, sekitar 5 menit per episode-nya. Dengan durasi video yang pendek, Anda bisa menghemat waktu download bagi pemirsa dan juga bandwidth Anda. Bahkan setelah dioptimasi untuk pemutar video digital portabel, sebuah film 7 menit masih berukuran sekitar 40MB.

Optimasi video Anda
Beberapa aplikasi penyunting video menyediakan fasilitas optimasi untuk membuat file video Anda layak tayang di pemutar video digital portabel. Pilih format file yang bisa diterima oleh situs hosting video bila Anda berniat mempublikasikannya secara online, dan pilih ukuran custom lebar dan tinggi 320×240 sebelum menyimpan proyek video Anda. Aplikasi secara otomatis akan mengekspor video ke dalam format sesuai dengan setting yang Anda buat. Nah, mudah bukan? Selamat berkreasi!


AddThis Social Bookmark Button





Manajemen Sebuah Project Desain

17 12 2007

Lulusan sekolah desain gafis atau desain komunikasi visual saat ini mempunyai skill yang cukup baik, beberapa bahkan di atas rata-rata. Tapi ketika dapat sebuah project (yang sebenarnya kecil) kadangkala langsung mengalami gagap manajemen dan kebingungan dalam melakukan ‘organizing’ project. Tanya sana, tanya sini, tanya teman, tanya sama senior bahkan tanya dosen. Terus kalo disebutkan sejumlah angka, mereka akan protes: “Kok segitu sih? Kecil banget…Desain kan mahal!”

Beberapa pertanyaan dari teman-teman yang kebetulan mendapat sebuah project/side job masih berkisar masalah-masalah yang mendasar. Namun ada beberapa pertanyaan yang juga menyangkut persoalan manajemen project desain yang kompleks. “Berapa sih harga sebuah brosur?” atau “Kok harga desain katalog sama dengan desain poster?” bahkan sampai “Client saya butuh contoh produk padahal projectnya belum rampung perjanjiannya, gimana nih?”

Sebuah wacana yang tak pernah kunjung selesai: “Bagaimana menetapkan harga sebuah desain?”. Ada jargon yang harus selalu dingat, bahwa “Desain yang bagus itu yang sudah dibayar!”. Memang masalah klasik, tapi perlu pemahaman yang lebih kontemporer, paling tidak untuk saat ini. Setiap desainer, selain memiliki hak untuk dibayar, juga memiliki kewajiban untuk membuat manajemen dalam desain grafis. Apa itu? Bukan sekedar memberi harga sekian, bikin, jadi, langsung dibayar! Desainer yang baik dan mampu bersaing, harusnya mampu melakukan lebih dari sekedar itu semua.

Dalam sebuah project, baik itu besar maupun kecil haruslah memakai prosedur standar. Hal ini perlu dilakukan agar kita sebagai desainer mampu melakukan tugas secara profesional dan tidak disepelekan oleh client. Banyak juga terdengar cerita dari teman-teman yang mengeluh terhadap client yang banyak tuntutan, revisi terus menerus, harga yang tak pantas, dan waktu kerja yang semakin memanjang tak tentu habisnya. Ini adalah isyu yang menarik, karena banyak dari para rekan-rekan desainer yang dengan terpaksa menerima project dengan client yang tidak jelas, alasannya sederhana: “Gak papa deh, dari pada gak ada kerjaan.”

Manajemen Sebuah Project Desain

Namun kalau kita amati secara mendalam, intinya adalah segala sesuatunya dimulai dari pro-aktif desainer, bukan dari client. Kenapa? Karena client datang kepada desainer dengan sebuah masalah. Dan sudah selayaknya kita desainer tidak lagi merepotkan mereka dengan ini-itu dan mampu menciptakan sebuah solusi yang tepat untuk permasalahan mereka.

Ada beberapa elemen yang perlu diperhatikan pada awal sebuah project terutama elemen-elemen dalam manajemen, diantaranya adalah:

1. Planning
Dalam tahapan ini perlu adanya perencanaan yang matang pada awal sebelum project dimulai. Perencanaan meliputi:

  • Time Planning, seperti membuat timeline project yang harus disetujui oleh klien. Timeline dibuat secara detail mulai dari proses konsep, desain, FA, sampai produksi, tergantung dari permintaan klien. Yang pasti disini terlihat profesionalisme kita para desainer dalam menghargai waktu dan deadline.
  • Work Planning, seperti membuat workflow yang jelas. Tahapan demi tahapan disebutkan secara detail sehinggal klien tidak bisa seenak-enaknya mundur lagi ketahapan awal kalo dia sudah approval tahapan selanjutnya. Bisanya dibuat yang namanya Appoval Form untuk ditandatangani klien per tahapan project.
  • Financial Planning/Budgeting. Sering disebut quotation yaitu penawaran harga. Mesti dihitung secara detail penggabungan antara design fee dengan ongkos/biaya lain seperti kertas, print, pembuatan mock-up, fotografi, dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan desain yang dibuat. Hal ini dimaksudkan agar jangan terjadi kerugian secara finansial bagi desainer itu sendiri. Karena material dan biaya serta ongkos seperti diatas itu tidak termasuk ke dalam design fee.

2. Orginizing
Mengatur semua elemen-elemen dalam proyek tersebut. Sebab tentunya dalam sebuah project akan melibatkan banyak waktu dan tenaga. Kendali ada di tangan desainer jika dia merupakan orang nomer satu. “Siapa-harus-bertanggung-jawab-kepada-apa” adalah mutlak untuk diatur secara benar didalam project tersebut.

3. Stuffing
Memaksimalkan segala fungsi-fungsi team yang ada. Misalkan kita sebagai seorang desainer bisa meminta tolong pembantu untuk memfoto copy, kurir untuk mengantarkan barang, atau paste up artist untuk membuat mock-up. Kalau pun pada akhirnya seorang desainer itu mengerjakan semua, maka harus dihitung tenaga dan waktu yang dikeluarkan.

4. Directing
Seorang desainer harus mampu mengarahkan, mengatur, dan memotivasi diri sendiri dalam sebuah project guna tercapaikan tujuan project tersebut yang yang pada akhirnya akan menjadi sebuah solusi bagi masalah client.

5. Controlling
Ini yang sering dilupakan. Buatlah sebuah form checklist dalam setiap project untuk menghindari kesalahan-kesalahan kecil. Form berguna untuk memeriksa kembali apakah desain yang kita buat sudah sesuai denga brief dan mandatory client. Sering kali karena kesalahan kecil, seorang desainer harus menderita kerugian yang begitu besar. Misalkan saya salah ketik huruf, lupa konversi warna ke CMYK dan sebagainya.

Perlu diingat adalah bahwa ternyata skill bagus saja tidak cukup apabila kerja tidak sistematis malah kemungkinan karya tidak bisa dijual secara layak. Semoga tips di atas bisa berguna bagi kita semua.

Sumber: Disunting dari Inco Harper, TBWA Indonesia

AddThis Social Bookmark Button